unspoken words

Farewell

Katanya jangan membuat penulis jatuh cinta, karena kamu akan selalu abadi dalam karyanya.

Benar, seperti itulah Aruna mengabadikan “orang itu” dalam tulisan-tulisan yang ia buat. Seseorang yang mengacaukan pikirannya, seseorang yang membuatnya tergila-gila karna berhasil membulak-balikkan hati.

Disaat orang-orang lesu di senin pagi, berbeda dengan Aruna yang selalu bersemangat menyambut senin. Ia tidak suka libur sekolah, dua hari baginya bagaikan dua abad. Ia selalu ingin melihat wajah itu setiap hari.

Bahkan saat upacara matanya sibuk melihat kesana kemari. Mencari orang yang selama dua hari ini tidak ia lihat. Hingga akhirnya matanya menangkap lelaki dengan topi SMA-nya berbaris disebelahnya. Yaaa meskipun mereka bertemu saat dihukum karena atribut yang tidak lengkap, tapi Aruna tetap senang. Mata mereka sama-sama membulat kecil ketika menyadari mereka dihukum bersamaan kemudian terkekeh bersama.

Lucu sekali. Setelah lima tahun lamanya, Gadis berambut sebahu itu merasakan kembali asam manis cinta di sekolah. Bagaimana perutnya yang penuh kupu-kupu, jantungnya yang berdegup kencang ketika mereka bertemu, dan bagaimana sapa yang terlampir hanya lewat mata, dan senyuman kecil yang mampu membuatnya menggila.

Karena orang itu, setiap hari baginya selalu penuh semangat. Penuh perasaan-perasaan yang menggelitik dan berdebar. Perasaan menggebu yang tak bisa ia tangani. Indah, pikirnya.

Hingga akhirnya ia ceroboh juga. Ia seharusnya tidak boleh jatuh. Seperti motor yang terus melaju ketika melihat lampu merah, Aruna terus melaju tanpa melihat tanda itu.

Katanya tidak apa sedikit menyakiti diri sendiri untuk mendapatkan kebahagiaan, tapi ia tak tahu jika akan sesakit ini. Padahal awalnya semanis itu, bahkan hingga saat inipun masih terasa betapa manisnya ingatan itu hingga sulit terlupakan.

“are we really that far, now?” Aruna bergumam pada dirinya sendiri ketika mengingat bagaimana bibir mereka yang sama-sama tidak mengukir senyuman saat bertemu kembali. Mata yang saling bertemu namun tak ada sapa, jarak yang dekat namun sangat jauh.

Asing.

Setelah semua yang telah dilakukan Aruna. Dan setelah semua hal kecil yang tidak pernah Aruna lakukan pada orang lain, tapi ia lakukan untuk orang itu. Yang ternyata itu bukanlah apa-apa. Ia sadar itu hal yang biasa, tapi ia tak menyangka akan sebiasa itu untuknya. Miris ya? hahaha.

Jika ditanya bagaimana perasaannya, tentu saja ia baik-baik saja. She's not broked, she's fine. Ia sendiri tahu fase ini akan datang kapan saja, tapi tak ia sangka ternyata secepat itu. Aruna baik-baik saja akan hal itu, sampai akhirnya tangisnya pecah begitu saja.

Tangis yang tidak pernah keluar selama dua bulan terakhir setelah mereka tidak pernah lagi mengenal satu sama lain, akhirnya meluruh juga. Gadis itu terisak, dadanya sesak mengingat semua hal yang pernah orang itu katakan. Aruna masih mengingat betul bagimana salah tingkahnya ia saat mereka saling bertukar pesan. Bagimana bibirnya yang tak pernah pegal menarik senyum.

Bahkan dari semua rencana yang mereka buat bersama, tidak ada satupun yang terlaksana. Dari semua hal yang orang itu katakan padanya, tidak ada satupun yang dilakukan. Bohong.

Hatinya sakit mendengar kembali suara yang sudah lama tak ia dengar melalui beberapa voice note. Suara berat yang dulu benar-benar memabukkannya.

Rindu yang tak bisa ia suarakan terus berteriak. Mencoba memanggil, mencari hati yang awalnya tersesat namun kini telah menemukan ruangnya. Hingga pada akhirnya ia sendiri yang tersesat, tak tahu arah. Mencari sesuatu yang sedari awal memang sudah tidak ada.

Aruna benar-benar merindukan hadirnya. Orang itu ada dimana-mana, tapi terasa seperti orang asing yang tidak mengenal. Dulu, entah kita dekat ataupun jauh, hadirnya selalu ada, terasa. Gadis itu hanya mengharapkan segala sesuatu yang dulu sangat sederhana, tapi sekarang terlihat seperti hal yang tidak logis, semuanya tidak masuk akal untuk Aruna.

People come and go. Tapi kenapa harus dia yang pergi? Kenapa harus secepat itu? Ia tahu soal fakta itu, ia tahu ini akan terjadi tapi ia belum siap.

17/2/23