Ring and Suit
Seluruh staff akhirnya sudah mendapatkan undangan resmi via email, reaksi beragam langsung terlihat dari ekspresi mereka semua. Beberapa orang terlihat excited, tapi banyak juga yang terlihat malas karena menurut mereka waktu istirahat nya lebih berharga daripada acara tersebut.
“Bang, ini pada mau ikut mampir mall juga pas mau balik. Jadinya ramean, lu gapapa?” Kai menghampiri Bian setelah berbincang dengan staff NODUS Jakarta yang lain.
“Gapapa kok, nanti mencar juga kan sesuai apa yang mau dicari. Balik masing-masing aja biar ga repot saling nunggu.” Jawab Bian, dan Kai pun mengangguk setuju.
Sabiano memang punya personality yang tertutup. Dia bisa berinteraksi dengan ramah kepada rekan kerjanya, tetapi itu hanya menyangkut persoalan profesional kerja. Diluar itu tidak ada yang dekat secara pribadi dengan dia, maka dari itu Kai pun memastikan karena takutnya Bian merasa tidak nyaman.
Sesampainya mereka di salah satu mall sesuai rencana, rombongan pun berpisah untuk mencari kebutuhan masing-masing. Bian yang memang hanya akan membeli jas pun langsung menelusuri store yang dia cari. Sebenarnya dia sudah punya banyak setelan jas, tapi dia kira tidak akan ada keperluan untuk mengharuskan Bian memakainya. Berkat intuisinya yang meleset itulah akhirnya Bian berhenti di store Boss ini.
Saat Bian masuk, dia langsung disambut salah satu staff dengan ramah. Bian langsung menjelaskan apa yang dia cari dan untuk keperluan occasion company nya. Staff tersebut langsung mengarahkan Bian untuk melihat beberapa koleksi rekomendasi mereka.
Akhirnya Bian menetapkan pilihannya pada setelan jas berwarna hitam pekat dengan potongan tailored fit yang jatuh rapi di bahunya. Menggunakan blazer satu baris dipadukan dengan rompi yang senada. Perfectly match combo untuk tubuh dan wajah tampan nya Sabiano Arkan.
Setelah melakukan payment dan mengucapkan terima kasih pada staff yang sudah membantunya, Bian pun melangkahkan kakinya pergi keluar dari store tersebut.
Saat dia berjalan menuju lobby untuk pulang, dari kejauhan nampak Kai juga baru keluar dari store perhiasan. Kai pun melihat ke arah Bian dan melambaikan tangannya. Bian membalas lambaian tangan Kai dan berjalan menghampirinya.
“Ngapain lu ke the Palace? Mau lamaran?” Bian bertanya pada Kai dengan nada bercanda.
Kai terlihat sedikit terkejut. “Nice shoot banget tebakan lu ahaha. Iya, rencananya gua mau ngasih ini ke Hanin,” jawabnya, mengakui tebakan Bian yang tepat sasaran.
“Bagus lah, good luck ya.” Bian tersenyum dan menepuk pundak Kai pelan.
Kai mengangguk dan tersenyum lebar, “Thanks bang Bian, yuk balik bareng aja.”
Sebenarnya Sabiano kaget karena tebakannya benar, dan tentu saja dia tidak menunjukkannya. Kenapa juga dia harus terkejut? Wajar jika Kai ingin melamar pacarnya.
Namun, ada sedikit perasaan yang mengusiknya.
Perasaan yang seharusnya tidak pernah ada sejak awal. Entah pengharapan palsu apa yang tanpa sadar Sabiano simpan. Satu hal yang dia tahu pasti, dia hanya ingin Hanin selalu punya senyuman indahnya seperti saat mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya.