Hari terakhir ospek selalu punya cara sendiri membuat udara terasa lebih padat dari biasanya, entah karena ruang auditorium yang penuh manusia, atau karena ada beberapa nama yang tiba-tiba menjadi pusat bisik-bisik yang tak bisa diredam. Dan salah satu nama itu adalah Nayyala.

Lampu panggung memantulkan warna keemasan di rambutnya, seolah cahaya sendiri ingin berdiri lebih dekat. Nayyala berjalan pelan menuju backstage di dampingi Rajendra disisinya, menyiapkan diri untuk menjadi pengisi penutup acara. Tapi tidak ada yang menyangka langkah gadis cantik itu sedikit goyah, bukan karena grogi, melainkan sisa ketakuran dari kejadian beberapa saat lalu, yang seharusnya sudah tertinggal jauh di belakang hidupnya.

Dan untuk sesaat tadi, bagi semua yang mengenalnya, terutama Rajendra, waktu sempat berhenti.

Rajendra bukanlah tipe lelaki yang mudah terlihat panik. Tapi jika itu menyangkut Nayyala, dada Rajendra bisa terangkat sedikit lebih keras daripada biasanya. Tatapannya berubah, tidak padam, tidak penuh amarah, namun siaga. Hening tapi terasa.

Ketegangab yang Nayyala rasakan berubah menjadi seutas senyum kecil, kala ia mendengar beberapa suara yang menyuarakan dirianya, seperti ;
“Eh, itu cewe yang kemarin di tunjuk Kak Rajendra gak sih …?”
“Yang diakuin pacarnya Kak Rajen?”
“Pantes sulit berpaling, cewenya spek bidadari gini…”

Jelas sangat jelas Nayyala mendengarnya. Mustahil tidak. Kejadian kemarin siang, cukup menggemparkan penguhi Kampus. Semua mata tertuju pada Nayyala sejak kemarin. Siapa yang tidak akan jadi pusat perhatian, jika di akui sebagai wanita spesial seorang Rajendra Arsa.

Tiba waktunya Nayyala menaiki panggung. Kecantikan Nayyala bahkan bisa mengalihkan seorang MC di depannya. Dengan mata yang berbinar jahil, sang MC memulai dengan pertanyaan yang membuat semua orang terdiam penasaran. “Sebelum kita mulai… ada pertanyaan dikit nih, boleh ya, Nay?” dan di lanjuti dengan penonton yang bersorak kecil.

“Nayyala, udah ada pacar belum?”

“Waduh spontan banget ini pertanyaannya yaa?” Ledek Nayyala dengan pipi yang sedikit merona. Namun jawabannya justru membuat auditorium semakin bersorak meminta Nayyala menjawab. Tapi sebelum sempat ia melanjutkan jawabannya, suara lain menyela dengan keras, lantang, dan jelas ikut menjahilinya. Gasendra, suara itu adalah seorang Gasendra.

“Tuh.” Gasendra menunjuk ke arah Rajendra tanpa malu sedikit pun. “Pawangnya komdis galak kalian. Berani gak?”

Auditorium semakin meledak. Tawa, siulan, tepuk tangan semua berpadu satu.
Rajendra hanya bisa mengangkat alisnya dan terkekeh kecil, tidak menyangkal, tidak menghindar. Hanya menatap Nayyala dengan tatapan yang diam-diam berkata lebih dari apa pun yang berani ia ucapkan di depan publik kemarin.
Dan di balik sorot lampu panggung, Nayyala merasakan sesuatu yang lebih hangat daripada rasa takut yang tadi sempat membuatnya melemas. Ia merasa aman. Ia tahu, jika dunia kembali memaksanya menghadapi masa lalu yang menyakitkan, ia tidak akan datang sendirian lagi. Ada seseorang yang berdiri tak jauh darinya, seseorang yang menjaga tanpa menghalangi, memperhatikan tanpa mengekang. Dan di dalam hatinya yang masih berdebar, Nayyala menyusun kalimat yang belum pernah ia katakan dengan suaranya yang lantang.

“Rajendra Arsa Danapati… jika rasa adalah rumah, maka kamu adalah pintu yang selalu kubuka tanpa ragu.”

Di sisi lain, berdiri di luar sorot cahaya, Rajendra pun memejam sebentar. Dalam diam ia menyimpan sesuatu yang hanya dimengerti dirinya sendiri.

“Shaa, jika dunia ini siap membuat senyum itu selalu terukir di wajah kamu, aku rela memberikian seluruh dunia ini untuk kamu, Shaa.”

Dan malam itu, tanpa mereka sadari, mereka bukan lagi dua insan yang saling mencari validasi. Namun dua insan yang telah menemukan arah untuk saling manyayangi.