Hujan turun tepat di lagu terakhir yang di bawakan. Penonton bersorak histeris, lampu-lampu panggung memantul di atas air, dan Rajendra… tentu saja tetap maju ke depan, membiarkan dirinya basah kuyup demi memuaskan crowd. Jaket hitamnya basah. Rambutnya basah. Dan hidungnya, seperti yang sudah ditebak semua orang yang mengenalnya, mulai memerah.
Begitu konser selesai dan member kembali ke backstage dan saat pintu baru saja terbuka saat Bunda langsung bersuara. “Rajendra Arsa Danapati!”
Nada yang hanya muncul kalau dua hal terjadi antara bangga dan kesal dalam satu waktu.
Rajendra hanya sempat mengedip ketika handuk putih langsung mendarat di pundaknya, bukan, bukan dari sang Bunda, tapi dari seseorang yang sudah berdiri di depannya dengan dahi berkerut.
“Udah aku bilang apa?” Nayyala mengusap wajahnya cepat, gerakannya cekatan tapi tetap lembut. “Kalau hujan jangan maju ke depan. Kamu tuh gampang…”
“Flu,” sambung Rajen sambil tersenyum kecil dan mengusap pucuk kepala Nayyala lembut.
“Liat tuhh, hidung kamu udah merah, Jen…” Nayyala mendesah frustrasi sambil mengecek kening Rajendra dengan punggung tangannya. “Baru selesai konser aja udah demam kayak gini.”
Bunda ikut masuk menyerang, “Bandel banget emang nih anak. Bunda udah bilang, jangan gaya-gayaan kalau hujan. Nih liat, merah semua hidungnya gitu.”
Rajendra ingin sekali menahan tawa, tapi gagal karena batuk kecil muncul. Yang tentu saja membuat Nayya menatapnya lebih tajam.
“Nah kan! AJEN IHHH.”
“…iya?”
“Jangan bercanda!” serunya lantang dan baru saat itu Rajendra terdiam.
“INI JUGA! Bukannya nyuruh temen temennya turun malah ngikut ujan-ujanan.” Nada Nayyala berubah, campuran peduli dan omelan manis ketika melihat sang kembaran Nalendra, ikut masuk dangan tubuh yang juga basah kuyup.
“Lakik lu tuh yang maju duluan kita mah ngikut kaptennya aja gimana.” Jawab Nalendra dengan senyum jahil khasnya.
“Lo tuh kalau lihat orang bego begini, jangan ikutan bego!” Nayyala melemparkan handuk ke dada Nalendra. “Cepetan keringin badan lo. Jangan bikin gue tambah mumet.”
Nalendra berdiri tegap pura-pura hormat. “Siap, ndoro.”
Selesai mengomeli saudaranya sendiri, fokus Nayyala kembali ke sumber kekhawatirannya, Rajendra.
Air yang masih menetes dari ujung rambutnya membuat wajah Rajendra terlihat lebih pucat. Nayyala menarik napas pendek, mendekat, lalu mengusap hidung Rajendra perlahan dengan handuk.
“Udah merah banget…” gumamnya, kali ini lebih lembut, lebih jujur. “Kenapa susah banget di bilangin si, Jen.”
Rajendra hanya bisa membiarkan dirinya diurus oleh Nayyala. Matanya turun, memperhatikan gadis di depannya. “Kamu marah, Shaa?”
“Aku khawatir,” jawab Nayyala tanpa menatapnya. Jemarinya pelan menyeka sisa air di sudut matanya. “Ganti baju sana. Aku udah siapin di ruang wardrobe. Jangan nunggu dingin dulu baru ganti.”
“Kamu yang siapin?”
Nada Rajendra jernih, terkejut tapi senang.
Nayyala mengangguk kecil. “Iya. Jadi tolong… jangan bikin aku tambah khawatir. Ganti baju. Sekarang!”
Rajendra tak lagi bisa menahan senyumnya, ia tersenyum sangat tampan untuk siapa pun yang meilhatnya.
“Iya, Sayang.”
Nayyala berhenti. Berkedip. “BENER BENER NIH ANAK! BURUAN GANTI BAJUNYA IHHH.” Malu, jelas Nayyala cukup malu hingga membuat wajah dan telinganya memerah sempurna.
Rajendra hanya memiringkan kepala dan semakin mendekat. “Kan tadi kamu janji peluk. Mana?”
Nayya memukul lengannya pelan. “Pergi. Ganti baju. Sekarang, Rajendra Arsa.”
Rajendra pun tertawa lepas dan berjalan menuju ruang wardrobe sambil mengusap hidungnya sendiri yang masih merah, masih basah, tapi dengan senyum tipis yang sulit dihapus.
Karena hujan boleh saja mengguyur panggung dan dirinya, tapi hangatnya perhatian Nayyala-lah yang benar-benar membuat malamnya begitu sempurna.