Langit pagi itu cerah, tapi entah kenapa udara terasa berat di dada Nayyala. Penggalan chat Lavanya yang memberitahunya bahwa Arlo sedang berada di kampus berhasil menguasai pikirannya. Pada langkah berikutnya, genggaman di ponselnya melemah. Dalam satu tarikan napas yang berat, trauma lama yang selama ini ia simpan rapat, tiba-tiba menyeruak tanpa permisi. Tangannya dingin, jantungnya berpacu cepat, dan napasnya mulai tak beraturan.
Nayyala mencoba berjalan cepat di koridor menuju aula, tapi baru beberapa langkah, pandangannya menangkap sosok itu, tinggi, tegap, dan terlalu familiar untuk salah. Arlo berjalan menghampirinya bersama sang Kakak tingkat Jericho.
Tatapan mereka bertemu sesaat, cukup lama untuk membuat dunia Nayyala runtuh lagi.
Detik berikutnya, ia berbalik, berlari ke arah lain. Nafasnya tersengal, matanya kabur oleh air mata yang mulai tumpah tanpa bisa dikendalikan.
Toilet perempuan di dekat lobby menjadi tempat perlindungannya. Nayyala masuk terburu-buru, mengunci pintu, dan bersandar di baliknya. Tangan yang gemetar mencoba memegang ponsel untuk menghubungi siapapun, Nelendra, Manggala. Kaivan. Gasendra. Tapi tak satu pun menjawab. Suaranya pecah ketika napasnya mulai tercekat. Dunianya kembali terasa sempit, terlalu sempit untuk menampung semua rasa takut itu.
Di sisi lain, di aula utama, Rajendra menatap layar ponselnya yang kosong. Belum ada kabar dari Nayyala. Biasanya gadis itu selalu memberi tahu, sekadar, “udah otw, ya.” atau “aku udah di parkiran.” Tapi kali ini hening.
Rajendra berjalan keluar dari aula, menekan nomor Nayyala berulang-ulang menelponnya. Namun tidak dijawab. Raut wajahnya mulai berubah, tenangnya terkikis oleh rasa khawatir yang makin tumbuh.
Tangannya bergegas menelpon Nalendra.
“Len, Nayya masih sama lo?”
Suara di seberang terdengar tenang seperti biasa, tapi jawaban itu justru membuat Rajendra membeku.
“Kagak, udah gue drop di lobi. Dari lima belas menit yang lalu.”
Seketika darahnya terasa berhenti mengalir. Kalimat itu menyalakan semua alarm di kepalanya.
“Oke thanks, Len.” Tutupnya
Disaat yang bersamaan
“Rajen, you here me!”
Suara Manggala terdengar di HT khusus, dengan nada panik.
Rajendra langsung menempelkan alat itu ke telinganya. “Kenapa, Gal?”
“Jen, kayanya Nayya ketemu Arlo. Gue sama yang lain gak bisa ngubungin Nayya, Jen. Nomornya aktif, tapi gak diangkat.”
Kalimat yang cukup singkat itu mampu membuat Rajendra langsung berlari. Tanpa pamit, tanpa menoleh. Langkahnya menggema di sepanjang koridor yang kini terasa terlalu panjang.
Panggilan demi panggilan ia tekan, entah sudah keberapa kali. Sampai akhirnya, di tengah napasnya yang memburu, sambungan itu tersambung.
Hening. Lalu suara isak pelan terdengar dari seberang.
“Sha?” Rajendra menahan napas. “Kamu dimana, sayang? Maaf… aku telat. Boleh kasih tau aku kamu dimana?”
Suara Nayyala pecah, serak, penuh ketakutan yang ia tahan sejak tadi.
“Aku di toilet utama… Jen, aku takut.” Cukup satu kalimat itu untuk membuat seluruh tubuh Rajendra menegang.
Tanpa berpikir lagi, ia berlari lebih kencang, menyusuri koridor dengan napas terengah, mata menatap lurus ke arah lobi utama kampus. Satu-satunya hal yang ada di pikirannya cuma satu menemukan Nayyala.