Langkah Rajendra menggema di sepanjang koridor, cepat, tergesa, dan nyaris tanpa jeda. Udara siang yang lembab membuat napasnya memburu. Ponselnya masih menempel di telinga, tapi tak ada lagi suara dari seberang. Hanya isak yang sesekali pecah, lalu hening lagi.
“Sha…” suaranya melembut, nyaris bergetar, “aku udah di sini. Can you here me? Aku udah di sini, sayang.”
Pintu toilet terbuka perlahan. Aroma sabun dan lantai basah menyambutnya, tapi pandangannya langsung berhenti pada gadis di pojok ruangan. Nayyala duduk bersandar di dinding, tubuhnya gemetar hebat. Matanya merah, air matanya jatuh tanpa suara. Tangan kirinya memegang ponsel erat, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap sadar.
Rajendra mendekat perlahan, menundukan dirinya agar sejajar dengan wajah Nayyala. Ia tak langsung bicara, hanya meraih jemari Nayyala yang dingin dan menggenggamnya perlahan.
“Sha, please… take a breath first, sayang…” bisiknya lembut. “Pelan-pelan, ya? Bareng sama aku.”
Nayyala menatapnya samar, matanya basah dan bingung. “Dia di sini, Jen…” suaranya nyaris tak terdengar. “Aku liat dia… dia mau nyamperin aku—aku takut, Jen.”
Rajendra menariknya pelan ke dalam pelukannya, membiarkan kepala gadis itu bersandar di dadanya. “Nggak apa-apa,” ujarnya lirih, seolah membisikkan mantra. “Aku udah di sini, Sha. Gak ada yang bisa nyakitin kamu lagi.”
Tangannya mengusap pelan punggung Nayyala, mengatur ritme napasnya seirama, lembut, dan sabar. Setiap kali bahu Nayyala bergetar karena tangisnya, Rajendra hanya menunduk sedikit, menempelkan dagunya di atas kepala gadis itu, dan berbisik pelan “its okey sayang, you safe now.”
Hening sejenak. Hanya ada suara detak jam dinding dan helaan napas mereka berdua. Nayyala memejamkan mata, mencoba menelan sisa takut yang masih tersisa di dadanya.
Rajendra tetap di tempatnya, tak peduli waktu berjalan atau suara panitia yang memanggilnya lewat HT. Bagi Rajendra, dunianya saat itu cuma satu, gadis yang ada di pelukannya. Yang tangannya masih dingin, tapi perlahan mulai berhenti gemetar. Yang napasnya mulai teratur lagi setelah sekian lama tersengal karena panik.
Ia menatap wajah Nayyala, menyibak sedikit rambut yang menutupi pipinya, dan berbisik pelan, “Udah, Sha. Udah gak apa-apa. Kamu aman… im promise.”
Suara itu terdengar seperti janji kecil, tapi bagi Nayyala, itu cukup untuk membuat dadanya sedikit lega. Karena dari semua hal yang pernah runtuh di hidupnya, satu hal yang selalu nyata adalah Rajendra, yang selalu datang tepat saat semuanya hampir hancur.