@naskahjingga on twitter! 💕

“AARH DEK KAMU DIMANAAA” teriak Bian frustasi sebelum akhirnya ia merebahkan dirinya di sofa ruang tamu nya.

Ayres dan Bukti juga ikut merebahkan diri mereka di sofa ruang tamu itu. Bian kembali terduduk lalu bertanya sekali lagi.

“Lo yakin res? Di rumah temen cewenya ga ada?” tanya Bian di iringi gelengan pelan dari Ayres.

Tatapan Bian beralih ke Bukti “Lo juga yakin buk? Sekar ga ada di tempat yang suka dia kunjungin pas sedih?” Sama, Bukti juga menggeleng.

Bian kembali meremat wajahnya frustasi, mengingat bahwa ia telah gagal menjaga adik kesayangannya itu.

“Bang, lo bilang Sekar terakhir kali ketemu sama nyokap lo?” ujar Ayres bertanya lumayan serius dengan Bian.

“Iya, kenapa?” Bian menatap Ayres kembali.
“Jangan jangan..”
“ENGGAK! NYOKAP GUE GA GITU YA”
“Maksud gue, jangan jangan nyokap lo nyuruh Sekar liburan gitu tanpa sepengetahuan lo” iya, Ayres masih berusaha berfikir positif.

“Sekar bukan tipe yg ga pamitan kalau mau pergi, lagian..” ucapan Bian terhenti sejenak seperti baru saja mendapatkan petunjuk di kepalanya.

“Lo pada belum periksa rumah ini kan???” lanjut Bian.

“BENAR JUGA! DARI TADI KAN KITA NYARI DI LUAR TERUS” Sahut Ayres semangat.

“Sekarang lo res, nyari diluar rumah ya semuanya! Kalau lo buk, nyari di lantai dua, gue lantai satu”

Mereka bertiga berpencar sebelum akhirnya sibuk pada tugas masing masing.

“Bukannya kamar mama di lantai 1, ya?”


krieeett

Bian, sudah tiba di kamar terakhir yang harus ia periksa. Yaitu kamar sang ibu. Ia menjelajah seluruh penjuru kamar siapa tau ia bisa menemukan beberapa petunjuk. Ia terlalu fokus.

dug dug dug

Terdengar sebuah pukulan pintu, sangat lemas sekali. Bian yang mendengar itu, lantas menajamkan atensinya ke arah sumber suara, kamar mandi. Bian mendekat lalu menempelkan telinga nya ke pintu kamar mandi.

Terdengar suara shower dinyalakan dan sebuah nafas makhluk hidup “tolong..”

“DEK.. ITU KAMU???!!”

dibalik pintu

Sekar terkejut, saat mendengar suara yang sangat ia kenal, Bian. “Ka bian..” ujarnya lemas dan hampir menutup matanya.

“DEK.. AKHIRNYA KAKAK NEMUIN KAMU..” suara laki laki itu, sungguh bergetar dan membuat Sekar ingin langsung memeluknya.

Dari luar terdengar derapan kaki dua orang, yang diketahui adalah Ayres dan Bukti.

“Shit, dikunci” misuh Ayres lalu memegang pundak Bian yang masih terduduk di depan pintu kamar mandi itu.

“Bang, minggir dulu biar gue dobrak. SEKAR, LO MUNDUR DULU GUE MAU DOBRAK PINTUNYA”

Sekar menyeret tubuhnya mundur lalu memeluk kedua kakinya erat. Takut.

Brakkk

“DEK!!”

grepp

Hangat, pelukan Bian sangat hangat. Bahkan mampu menghangatkan tubuh Sekar yang sangat dingin sekarang.

“M-maafin kakak.. hiks k-kakak belum bisa jagain kamu..” Bian mengeratkan pelukannya lalu mengelus pucuk kepala dingin adiknya pelan.

“Maaf..” begitu pilu mendengar ucapan maaf dari Bian.

“K-kak, gue gapapa” ujar Sekar yang hampir tidak mengeluarkan suaranya.

Bian tidak menjawab, ia merasa sangat bersalah saat ini. Apalagi saat Sekar mengatakan bahwa ia baik baik saja. “Kamu ga jago bohong, sekar”

Sekar tersenyum lalu membalas pelukan Bian yang sedang membenamkan wajahnya di pundak sang adik.

“Lo jelek ah, cowok kok nangis terus.. Gue ga mau punya kakak suka nangis, kek bencong”

“Kata siapa suka nangis..”

“Gue inget kak..”


Beberapa jam yang lalu

ngiiingg
“Huaaaa, mah kok adik kesayangan aku di suntik sihhh”
“Hey Bian sayang, dengerin mama. Itu adik kamu di imunisasi, gapapa kok. Malahan, adik kamu gabakal mudah sakit kalau di imunisasi gitu. Udah ah anak cowo mama kok nangis”
“Hiks.. T-tpi kok Sekar nangis mah? Kalau nangis berarti sakit dongg”
“Kalau adik kamu ga nangis, berarti dia ga normal dong?”


“SEKAAARR, KAKAK BAWAIN LOLIPOP KESUKAAN KAMUU”
“Gamau, gasuka manis buat ka Bukti aja sana”
“BENERAN NIH KAMU GAMAU??”

Anak laki laki itu perlahan meneteskan air matanya.

“Kakak nangis???”
“LOH KAKAK BENERAN NANGIS??”

Tawa sang adik pecah.

“H-habisnya kamu g-ga mau permen yang k-kakak beliin susah susah.. Sampe n-nangisin adik orang..”
“HAHAHA Yaudah sini lolipop nya aku terima.. Tapi kalau nanti kakak dari orang yang kak Bian tangisin dateng, terus minta tanggung jawab, aku ga tanggung jawab loh ya”
“Biar kakak yang hadepin.. Mau berantem gaya apa? Kayang? Ballet? Rol depan? Sikap lilin?”


“MAMAAA!! KOK CELANA SEKAR ADA DARAHNYAAA??”
“Heh kak Bian, kok kamu yang riweuh sih? Ini artinya aku dateng bulan kak”
“Ya maap, kakak gatauuu”
“Makanya jadi cewe sana”
“Ih gamau! Nanti kalau kakak jadi cewe, kakak gabisa jagain kamu lagi dong..”