@naskahjingga on twitter! 💕

Air mata terakhir.

Note : Sebelum lanjut, jangan lupa di play ya lagu rekomendasinya! Biar lebih nge feel hehe ^^

———-

Ami menyandarkan punggungnya pada pintu kamar itu, dan ia mulai meringkuk pasrah tentang apa yang terjadi di dalam pada Fatim. Ia terus merapalkan istighfar dan otaknya berusaha untuk berfikiran positif. Berfikiran bahwa sebenarnya Fatim hanya tertidur dan sedang bersenang senang di alam mimpinya. Hingga 20 menit kemudian, Husna dan Retha berjalan dengan tergesa ke arah Ami yang masih memeluk kakinya.

“Ami.. Kamu kenapa?? Ada apa??”

Husna melemparkan banyak pertanyaan terhadap apa yang terjadi dengan Ami dan kenapa Ami masih ada di luar bukannya masuk?

Ami menceritakan semua kronologi awalnya hingga ia terdiam duduk di depan pintu asramanya ini. Dada Husna berdebar dan ternyata ia sudah punya firasat sebelumnya.

Husna langsung menggedor pintu kamar asramanya dan berteriak bagai orang yang sedang kalap mata.

“FATIM BUKA PINTUNYA! KAMU KALAU BERCANDANYA BEGINI, GALUCU FAT! FATIM!!”

Retha meraih bahu Husna dan menepuk pundaknya pelan, “Hus sabar, A-aku minta kunci cadangannya di ustadz Hilmi dulu ya.. Perbanyak do’a dan istighfar Hus.. Aku turun dulu, Assalamualaikum..”

Retha bergegas turun dan menemui Ustadz Hilmi di ruangan guru yang berjarak lumayan jauh dari asrama mereka. Ami menggantikan posisi Retha dan ia menepuk pundak Husna pelan. Ami tahu bagaimana dekatnya seorang Fatim dengan Husna apalagi mereka kemana mana selalu berdua.

Fatim memang dilahirkan berkekurangan atau cacat, bisa dilihat bagaimana dari cara ia mendengar yang harus memakai alat bantu dengar di telinga mungilnya. Sebenarnya pada saat awal Fatim datang ke pesantren ini, ia ditinggalkan dengan cara yang tidak seharusnya. Ia ditinggalkan dengan kondisi yang tidak wajar. Beruntung, Kyai Muhammad yang melihat Fatim saat itu langsung memutuskan untuk membiarkan Fatim di pesantren ini. Semua biaya yang seharusnya Fatim tanggung, tidak mendapat tagihan sepeserpun.

Fatim berhutang banyak pada Kyai Muhammad, Dan ia sempat menjanjikan pada sang Kyai bahwa ia akan menjadi seorang penghafal al-Quran dan mengantar sang Kyai ke surga nya Allah. Ia bertekad akan membanggakan sang Bunda walaupun ia sudah dibuang dengan cara yang tidak seharusnya.

Fatim dengan berbagai kekurangan, saat berada di lingkungan pesantren ini ia diperlakukan seperti Fatim dengan berbagai kelebihan. Salah satunya dengan ketiga teman asramanya. Hingga semua masalah Fatim terlupakan begitu saja saat bersama mereka bertiga.

“Fatim sayang mereka ya allah, tolong halalkan surga-Mu untuk mereka.. Dan ampuni semua kesalahan bunda pada Fatim.. Sungguh engkau maha pengampun dari sebaik-baik nya pengampun..”

Braaakkk

“FATIM!!!”
“FATIMAH AZ-ZAHRA!!”

Fatim yang sudah terkulai lemas di samping tempat tidurnya lantas tersenyum kecil saat ia mendengar nama lengkap yang diberikan oleh Kyai Muhammad itu. Nama yang sungguh indah, pikirnya.

“KAMU KENAPA GAK MINTA TOLONG SAMA KAMI HAH?? AKU MARAH, MARAH BANGET SAMA FATIM!!”

Husna langsung merengkuh tubuh Fatim yang terbaring lemas dan Husna merasakan sikap keputusasaan pada raga Fatim. Fatim hanya tersenyum dan ia berusaha mengangkat tangannya, namun nihil. Ia tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya. Hingga saat air mata terakhir Fatim menyentuh pipinya, Fatim menatap ketiga kakak kesayangannya dalam. Tatapan bahagia karena Allah sudah mempertemukannya dengan mereka.

Dengan sekuat tenaga Fatim membuka suaranya, “K-kak, a-ku minta t-tolong b-boleh?”

Husna yang masih merengkuh tubuh Fatim lantas langsung melepaskan rengkuhannya dan menatap Fatim sendu, “Kita ke rumah sakit aja yuk.. ayo.. Hati aku sakit liat kamu begini..”

Fatim menggeleng lemah, “Tolon-g b-bacakan yas-in untuk Fatim k-kak..”

“ENGGAK! FATIM SEMBUH! PASTI SEMBUH! AYO KITA KE RUMAH SAKIT!!”

Husna lagi lagi merengkuh tubuh Fatim dan mencoba untuk menggendong tubuh lemahnya Fatim. Tapi tidak berhasil.

Ami mencoba untuk menghentikan Husna, “Hus, kasian Fatim nya hus, udah..”

Husna menangis sejadi jadinya sementara yang lain, Ami, Retha dan ustadz Hilmi mulai membacakan yasin untuk Fatim. Mereka tidak berani melakukan apapun terhadap apa yang mereka lihat saat ini.

Dada Husna sakit, sungguh sakit. Ia tidak pernah membayangkan akan terjadi hal seperti ini pada teman kamar kesayangannya. Teman yang menurutnya mempunyai banyak kelebihan.

Baginya, Fatim adalah orang terkuat yang pernah ia temui. Orang terkuat yang selalu merekahkan senyumnya untuk orang di sekitarnya. Fatim sangat spesial untuknya.

Husna menggenggam jemari lentik Fatim dan mengecupnya tulus sebelum merapalkan sebuah doa.

“Allahumma ahyiha ma kanatil hayatu khairan laha, wa tawaffaha idza kanatil wafatu khairan laha.”

Artinya : “Ya allah, panjangkan lah hidupnya jika itu lebih baik baginya, dan ambillah jika itu lebih baik baginya.”

Tangisan menggema di seluruh penjuru kamar 9SF, dan itu menyita seluruh perhatian penghuninya. Fatim menutup matanya perlahan dan tersenyum cantik untuk terakhir kalinya untuk orang yang ia sayangi.

Fatim, sudah bahagia di sisi Allah..

©️arunandaa, 2021.