@naskahjingga on twitter! 💕

Banjarmasin,
31 Desember 2017.
23:51 WITA.

Malam ini, terasa gelap dan kelabu. Suhu terasa dingin, karena hujan yang baru selesai mengguyur kota seribu sungai ini, Banjarmasin. Seharusnya, aku menikmati malam penggantian tahun baru di pinggir sungai Martapura, yang akan sangat indah jika di nikmati dari pinggiran sungai yang di namakan Siring. Kota ini sangat indah, aku mengakuinya. Hanya saja, malam yang aku alami sekarang tidak seindah kota ini.

“Ding, sorangan ja kah?”
(“Dek, sendirian aja?”)

Aku mempercepat langkah kecilku ketika ada segerombol laki laki yang mendekatiku tanpa aba aba.

“BEJAUH SANA! JANGAN MEUMPATI AKU!”
(“PERGI SANA! JANGAN MENGIKUTI AKU!”)

“Uma ay pian ni ding ai, jangan penyarikan kitu pang. Takutan kaka nah.”
(“Astaga kamu ini, jangan marah-marah gitu dong. Kakak takut nih.”)

Mereka tertawa seakan akan meremehkan ragaku yang sedang sangat ketakutan setengah mati ini. Aku berjongkok lalu berteriak sangat nyaring yang mengagetkan mereka semua. Karena wilayah ini masih mencakup permukiman penduduk, mereka sedikit was was kalau saja benar benar ada warga yang mendatangi mereka karena keributan yang aku buat.

“Eh be jauh ja yo, inya ni gila kayaknya. Kuciak kuciak, busiah ada urang datang habis am kita.”
(“Pergi aja yuk, sepertinya dia gila. Teriak teriak ga jelas, nanti ada warga datang bisa habis kita.”)

“Iih, be jauh ja. Aku kada handak jua lawan binian kada waras.”
(” Iya, pergi aja. Aku ga tertarik sama perempuan gila.“)

Mereka meninggalkan ku yang masih berjongkok sembari menutup kedua telingaku. Entah kenapa, di jalanan yang sepi itu aku menemukan memori terburuk dalam hidupku. Bahkan bisa di katakan trauma.

Padahal, dua jam yang lalu aku masih bisa tertawa lepas di sebuah cafe privat yang temanku sediakan. Aku merasa bahwa malam ini adalah malam pergantian tahun baru terindah dalam sejarah aku bernafas.

Tapi nyatanya setelah aku sedikit di suruh meminum alkohol, aku di jebak temanku karena dendam nya padaku. Iya, aku sangat kotor sekarang. Tubuhku di sentuh oleh laki laki yang tidak aku kenal sedikitpun. Aku merasa dunia ku sudah hancur mulai saat ini. Dunia yang aku bangun sejak bernafas pertama kali, langsung hilang dan hanya ada kegelapan.

Salahku, ini semua salahku. Aku sudah menolak untuk tidak meminum alkohol karena aku sadar umurku masih di bawah batas wajar seseorang diperbolehkan meneguk alkohol. Tapi, tolakan ku itu tidak cukup kuat. Sehingga mereka semua berhasil membujuk ku untuk memasuki awal rencana busuk mereka.

Aku terbaring di aspal itu, lalu menatap langit yang sedikit cerah akibat kembang api yang meledak di seluruh penjuru langit.

Ternyata, seisi bumi sedang bersuka cita menyambut kalender baru dan harapan supaya hidup mereka lebih di isi takdir baik di tahun baru ini. Sedangkan aku, baru awal tahun saja sudah di awali dengan takdir buruk. Tuhan tidak sedang menghukum ku, bukan?

“Mama, papa, maafin Nara..”

©arunandaa