@naskahjingga on twitter! 💕

Besides!

Image

Aroma alkohol menguar, beberapa bahkan puluhan insan manusia sedang asyik mengiringi irama lagu yang cukup membuat gendang telinga berdesis laju.

Sangat berisik disini... gumam Dwyne sesaat sampai akhirnya ia tersadar bahwa begitulah kondisi club malam sesungguhnya.

Karena biasanya, ia mengunjungi sebuah tempat dengan bau alkohol yang sama tapi dengan suasana yang berbeda. Kalau di Italia ia biasa disuguhkan musik klasik yang mampu membawa tubuhnya untuk berdansa ria dengan teman dansa randomnya. Entahlah itu bisa disebut club atau bukan, yang pasti bagi Dwyne segala macam tempat yang berbau alkohol nama tempat itu adalah club. Tidak bisa diganggu gugat, katanya.

Tapi seketika ia berada di sini, rasanya sangat berbeda. Iya, ia seakan mengalami Culture Shock.

Berbagai genre musik diputar untuk memuaskan hati para pengunjungnya yang sedang dalam berbagai suasana hati juga. Ada yang sedang bahagia, sedih bahkan hanya sekedar untuk duduk memperhatikan beberapa gadis bergoyang ria memamerkan seberapa besarnya butt yang mereka punya.

“Nona Dwyne?” suara berat lelaki terdengar samar ditengah alunan musik DJ.

Dwyne menoleh kebelakang, dan menemukan seorang laki laki yang berpakaian rapi disertai sebuah tas koper berwarna biru tua ditangannya. Dwyne tidak berkata apa apa.

“Sono un subordinato del signor Luke, signorina.”
(“Saya anak buah tuan Luke, Nona.”)

Tanpa banyak bicara, orang yang mengaku sebagai bawahan Luke itupun langsung beranjak pergi menuju sebuah ruang VIP yang sudah Luke reservasi sebelumnya. Dwyne mengikuti dengan tenang tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.

Pintu ruangan itu ditutup rapat oleh sang bawahan Luke tersebut, lalu berdiri di pinggir sofa tanpa hendak duduk sedikitpun. Lebih tepatnya ia tak berani duduk lebih dulu dari sang tuan.

Dwyne tersenyum kecil, “Wow, I like your attitude, sir.”

Sang bodyguard itu menunduk sedikit, “Kita berbahasa Indonesia saja, nona?”

Dwyne mengangguk, “Iya, silahkan duduk.”

Sang bodyguard langsung duduk sopan dan memposisikan dirinya senyaman mungkin. Sampai akhirnya ia menaruh koper yang ia bawa di atas meja yang sudah tersedia di ruangan itu.

“To the point, sudah beres semua?”, Ujar Dwyne saat melihat sebuah koper terpampang jelas di hadapannya.

“Sudah nona, saya sudah membawa semua barang yang nona minta. Dan titipan tuan kepala Luke untuk nona.”

“Titipan? apa?”

Sang bodyguard membuka sisi lain dari koper itu dan menampakkan sebuah benda tipis berbalut amplop coklat lumayan besar.

“Tuan kepala Luke menyuruh saya untuk memprint data ini untuk nona.”

Hingga dibukalah amplop itu oleh Dwyne, rupanya..

“Good job, Om Luke.”

Itu adalah data yang Dwyne minta sejak tadi siang, dan Luke sudah melampirkan rentetan data penting mengenai tato yang mereka bahas sebelumnya.

“Oh iya nona, nama saya Gil. Kalau nona butuh sesuatu disini, nona bisa hubungi saya saja. Saya akan bantu sebisa saya.”

“Terimakasih atas niat baikmu, Gil. Untuk sekarang saya sedang tidak butuh apa apa. Dan nanti kalau ada pun, saya akan menyampaikan nya lewat Om Luke. Karena disini, atasan anda adalah Om Luke.”

“Tapi nona juga adalah atasan saya.”

“Iya, tapi tetap saja saya tidak enak jika harus mendahului Om Luke tanpa izin darinya.”

Gil terlihat sedikit gugup, “Ah maafkan saya, nona. Saya tidak bermaksud apapun.”

“Kenapa gugup? Tidak apa apa, saya tidak merasa terganggu.”

“Saya hanya sedikit takut, karena beberapa rumor mengatakan kalau putri bungsu dari tuan besar Gennaro sikapnya sedikit kasar dan tidak memiliki hati. Kat-”, Setelah menyadari apa yang ia katakan barusan, Gil menutup mulutnya rapat rapat.

Gil bodoh! kenapa bisa sampai keceplosan gini sih?! Gil bergumam berisik, kemudian nampak menundukkan kepalanya takut.

Dwyne hanya tersenyum simpul, “Haha Saya sudah ratusan bahkan ribuan kali mendengar rumor itu, jadi tidak apa apa. Itu hanya sebuah rumor kan? mereka hanya tidak pernah bertemu dengan saya, makanya bisa menyimpulkan hal seperti itu dengan mudah. Sekarang anda berbicara dengan saya, apakah saya terlihat seperti manusia tidak punya hati?”

Gil menggelengkan kepalanya kuat, “Sikap Nona jauh dari semua rumor itu. Saya menyesal sudah sedikit termakan rumor tidak jelas itu. Nona sangat baik dan...”

Gil seperti menggantung ucapannya barusan.

“Dan apa?” tanya Dwyne penasaran.

“Nona sangat cantik.”


image

[Tw // harsh word]

“Akhirnya pake motor semua anjeng.”

“Siapa yang kentutin Sage gue, gue tanya??”

“Iya anjir, parah bgt Keef. Kentut lo lain kali dikasih stela jeruk dong biar wangian dikit.”

“Bodoh, yang ada nanti lo mabok kentut gue.”

“Ada ada aja lo bangsat, segala mobil orang lo kentutin. Kalo bau nya ga netep mah gapapa, ini baunya permanen, gila.”

“Lampu hijau, jangan berantem dulu.”

Tiga buah sepeda motor terlihat beriringan dengan kecepatan yang lumayan santai. Sedari tadi mereka hanya berisik sembari menyalahkan penyebab mereka tidak jadi memakai mobil untuk pergi ke club malam ini. Bahkan saat di lampu merah pun, mereka masih bertengkar menyalahkan Keef, penyebab mereka tidak jadi memakai mobil. Iya, Keef ternyata kentut.

Akibat kentut Keef itu, Sage — mobil Regnala terpaksa harus di ungsikan ke sebuah carwash dekat rumah Giu.

Hingga mereka sampai di jalan Kintamani 12, tepat di ruko nomer 7 lengkap dengan plang tidak lumayan besar bertuliskan 'Lucifer Night Bar' yang biasa mereka singkat dengan sebutan 'LNB'.

Keef mengeluarkan kartu member nya, dan sang petugas mempersilahkan lima kepala itu masuk tanpa melihat terlebih dahulu ktp yang mereka punya. Karena biasanya, peraturan di setiap club malam adalah harus menunjukkan Kartu tanda penduduk sebagai simbol bahwa sang pemilik sudah menganjak dewasa atau melebihi umur 17 tahun.

Mereka semua sudah legal, atau bisa menonton video apapun sepuasnya. Ah maksudnya, bisa meminum alkohol jenis apapun sepuasnya.

“Biasa?”, tanya Keef disusul anggukan oleh yang lainnya kecuali Dabi.

Ternyata, Dabi juga ikut.

“Dab?”, panggil Regnala sesaat setelah mereka semua duduk di kursi bundar dekat panggung.

Dabi tak menoleh sedikitpun, ia hanya menatap lurus pada sebuah objek yang tak tertangkap oleh mata Nala. Karena di sebagian spot di
club ini lumayan gelap tak mendapat cahaya.

Tak berselang lama, minuman pesanan mereka semua disuguhkan. Figara, yang akrab dipanggil Rara sudah berada di depan panggung sejak beberapa menit yang lalu. Giu perhatikan, sepertinya Rara mempunyai hal yang sedang mengganggu pikirannya. Entah hal apa itu. Terlihat dari gesture tubuhnya yang berusaha menghibur diri sendiri melalui alunan musik DJ yang semakin malam semakin kencang iramanya.

“Woy, itu Rara kenapa?” ucap Giu sedikit berteriak, beradu dengan tempo musik DJ yang dimainkan.

“Rara? Kenapa Rara?” sahut Keef yang juga sedikit berteriak.

Giu memberikan kode melalui matanya, yang dipahami dengan baik oleh yang lainnya.

“Lo pada jadi cowo gapeka banget gue liat liat.”, Dabi yang baru melontarkan kalimat pertamanya hanya tertawa kecil. Lebih ke tawa meremehkan, sih.

“Oh bisa ngomong lo? gua kira lo bisu.”, balas Giu dengan tawa yang tak kalah meremehkan.

Baru saja Dabi mengepalkan tangannya, tapi ditahan oleh Nala yang duduk disebelahnya.

“Lo bedua kayak bukan kembaran anjir, berantem mulu kerjaan nya. Kalem napa kalem bray..”, halau Keef kemudian.

“Gabisa ego, ni anak curut kalo gak di bogem gabakalan diem moncong nya.”, Dabi kembali emosi.

Giu menatap Dabi dengan seksama, “Lo masih marah sama gua gegara Deway?”

Dabi menghindari kontak mata dari Giu, ia tidak mengangguk tapi tidak juga menggeleng.

“Sorry, kak.”

Nala dan Keef mematung kaget. Giu memanggil Dabi dengan sebutan 'Kak'? sungguh fenomena keajaiban dunia yang ke delapan.

Dabi perlahan menampilkan tawa hangatnya, “Hahaha tumben lo say sorry ke gue, Gi.”

“Dih emang sejarang itu ya gua minta maaf? sering kali anjir, malah gua yang minta maaf duluan.”

“Sembarangan, baru kali ini lo minta maaf sama gue, bego. Pengakuan banget lo bilang lo sering minta maaf duluan. Lo gede di gengsi, anjing.”

Nala ikut membuka suaranya, “Setuju kali ini gue sama Dabi. Kecilin lah gengsi lo, Gi.”

Keef tertawa kencang melihat Giu yang seolah disudutkan oleh Dabi dan Nala, “Mau gue belain gak, Gi?”

“Berisik lo, lintah.”

“Oh yaudah, Wony buat gue.”, ancam Keef kesekian kalinya.

Alis Dabi mengernyit bingung, “Wony? jadi sekarang lo udah luluh sama Wony, Gi?”

“Hahaha iya Dab, tadi aja kelepasan nge rt tweet tentang Wony.”, tambah Nala.

“Bisa gak sih? lo pada lambe nya jangan kayak pak Saleh? gosip mulu.”

“PAK SALEH ANJIR HAHA.”

“Ini bukan gosip bro, tapi mencari kebenaran.”

“Mencari kebenaran palalu jajar genjang.”


©naskahjingga