@naskahjingga on twitter! 💕

Betray the taste.

image

[TW // Mention Divorce, and Violence.]

Kata orang, kalau seseorang sudah berkhianat lantas akan susah untuk menemukan kesetiaan dalam dirinya. Itu benar. Aku yang awalnya sudah kelewatan percaya، hanya mendapat sebuah pengkhianatan dari seseorang yang aku anggap sebagai malaikat dalam hidupku. Sesalah itukah aku percaya padanya?

Indonesia,
28 August 2008

Sore itu, aku dan kedua kakak ku berkumpul di kamarku. Kedua kakak ku terlihat murung karena masih teringat peristiwa di pengadilan kemarin. Aku yang masih berumur 5 tahun, justru bingung apa yang terjadi dengan papa dan mama?

“Kak Dabi, Kak Giu, papa kemana? kemarin rasanya aku liat papa tapi kenapa gak pulang sama kita kak?”

Kak Dabi dan Kak Giu yang saat itu berumur 7 tahun, aku pikir cukup mengerti apa yang terjadi dengan papa dan mama. Mereka berdua bertatapan gugup seperti sedang berdiskusi melalui batin apa yang akan mereka katakan pada adik kesayangan mereka ini?

“Kak?”

“Wyne mau eskrim??” Raut wajah Kak Dabi jelas sangat membuatku berfikir, “Apa sesuatu yang buruk terjadi?”

Aku menatap wajah kedua kakak ku lamat, sebelum kembali membuka suara “Kakak, aku nanya bukan mau es krim..”

Kak Giu menghembuskan nafas pelan, “Seberapa ingin tau kamu, Deway?”

“Sebanyak aku sayang mama papa! aku hanya ingin tau kenapa papa jarang ada di rumah bahkan tidak pernah lagi kak? Ulang tahun aku yang terakhir aja aku ngerayainnya tanpa papa. Dwyne kangen papa.”

Kak Giu menutup matanya seakan meyakinkan dirinya bahwa tindakannya sekarang itu benar, “Mama dan Papa cerai, Dek.”

Senyum penasaranku pudar, dadaku berdetak kencang “C-Cerai? Apa itu cerai kak?”

Aku tidak tau apa itu cerai, tapi kenapa dadaku sangat memburu? Apakah itu sesuatu yang buruk?

“KAKAK LAMA!” aku merogoh laci meja ku lalu menemukan sebuah handphone yang dibelikan papa ketika ulang tahun kedua kakak ku satu tahun yang lalu. Saat itu, handphone genggam sudah memiliki layar sentuh dan pastinya memiliki sebuah tabel pencarian internet yaitu Google.

Aku menekan tombol search dan muncul sebuah data mengenai hal yang aku cari.

“Cerai adalah berakhirnya suatu pernikahan atau bisa disebut terputusnya hubungan antara suami istri.” bacaku dengan sedikit nyaring.

Hingga kata terakhir ku ucapkan, dadaku semakin memburu setelah paham apa yang aku baca barusan. Ku edarkan tatapan terkejutku ke arah Kedua kakakku yang sekarang seperti membuang muka dan menghindari tatapanku.

“K-kak? P-papa sama M-mama b-bukan suami istri l-lagi? berarti m-mereka g-gak tinggal bareng l-lagi? JAWAB AKU KAK!”

Aku kesal dengan Kak Dabi dan Kak Giu yang selalu diam dari tadi.

“Iya.”

Handphone pemberian papa terjatuh dari genggamanku, di layarnya meninggalkan jejak retak yang lumayan parah.

Kak Dabi bergegas duduk di sampingku lalu memeluk tubuhku hangat sembari berbisik “Sssstt adik kesayangan kakak kuat, masih ada Kakak sama Kak Giu disini..”

Tangisku pecah, aku yang berumur 5 tahun sudah harus mengerti apa itu perceraian. Dan semua kenangan selama 5 tahun yang aku habiskan bersama keluarga kecilku, lantas terputar kembali di naluri ingatanku. Sakit rasanya.

Dadaku semakin sakit dan itu tidak bisa terkontrol oleh ku sedikitpun, “K-kak, dada w-wyne s-sakit..”

Kak Dabi semakin mengeratkan pelukannya dan Kak Giu yang sedari tadi hanya diam tertunduk, lantas ia ikut menghampiriku dan berkontak mata dengan Kak Dabi.

“AMBILIN AIR GI!” setelah mendengar perintah Kak Dabi, kak Giu langsung berlari menuju dapur.

Sementara Kak Dabi mulai mengelus pelan punggungku serta melontarkan kalimat menguatkan yang cukup membuat hatiku hangat.

“Wyne kuat.. Kakak ga akan ninggalin kamu, ingat terus ya kakak selalu ada di samping kamu.. Jangan pernah ngerasa sendirian, oke?”

“MAS JANGAN MAS! ELENA MOHON..”

Dari luar, terdengar suara keributan yang sangat kencang. Seperti ada beberapa orang yang sedang mengacak ngacak rumahku. Apalagi suara ancakan itu, di sertai suara erangan mama yang samar samar kudengar dengan sebutan ‘Mas’.

“PAPA?!”

Braaak

“Cattura la ragazza, ora!”(Tangkap anak perempuan itu, sekarang!)

Dua orang bertubuh besar dengan pakaian rapi dan berdasi, berjalan ke arahku lalu ingin meraih tubuh kecilku. Tapi pergerakan mereka terhenti akibat di depanku, dua tubuh yang juga agak kecil sepertiku berjejer rapi seolah olah sedang membuat benteng pertahanan untuk ku.

“PAMAN GAK BOLEH SENTUH ADIK AKU!”

“BERANI MENYENTUH DEWAY, AKU AKAN TENDANG MASA DEPAN PAMAN!”

“Giuliano, Dabith, minggir sayang”, Papa bersuara dengan nada yang lembut tapi tatapan nya sangat tajam.

“PAPA NGAPAIN MAU BAWA WYNE?! DABI GA MAU MINGGIR SEDIKITPUN, PAH”.

“GIU JUGA.”

Mereka berdua merentangkan tangan mereka lalu semakin merapatkan formasi mereka berdua.

“Jangan membuat papa marah, Sayang.”

“PAPA JUGA JANGAN BIKIN DABI MARAH! DABI MARAH KALAU PAPA BAWA WYNE PERGI!”

“GIU JUGA.”

“Catturali entrambi.”(Tangkap mereka berdua.)

Kedua bodyguard itu mengangguk lalu menangkap tubuh kecil kedua kakak ku. Tentu saja, mereka berdua memberontak dalam dekapan kedua bodyguard itu. Tapi apa daya, tenaga mereka sangat tidak ada bandingannya dengan kedua bodyguard itu.

Aku takut.

Papa berjalan ke arahku lalu menggendong ku pelan dengan dadaku yang semakin memburu.

“MAMA, TOLONG DWYNE! DWYNE GA MAU IKUT PAPA!” iya, aku meminta tolong pada mama.

Papa berbalik ke arah pintu dan segera pergi dari kamarku.

“KAKAK!!”

“DEWAY!! LEPASIN!”

Arghhh
Brukkk

Salah satu bodyguard papa tumbang, itu karena Kak Giu yang benar benar menendang masa depan sang bodyguard itu. Kak Giu yang sudah terlepas, langsung berlari memeluk kaki papa yang sudah sampai di tangga menuju ke lantai bawah.

“Pah, Giu mohon pah..”

Tindakan papa sangat berada di luar naluriku. Kak Giu yang memeluk kaki papa, langsung di hempaskan Papa ke arah tangga yang menyebabkan Kak Giu terguling dari atas tangga hingga ke lantai bawah.

“KAK GIU!! PAPA LEPASIN DWYNE!! PAPA JAHAT!!! HUHU KAK GIUUU.” Aku meronta sekuat tenaga dalam gendongan papa dan tentu saja aku ingin menghampiri Kak Giu yang sudah mulai kehilangan kesadaran di bawah.

“Elena! Urus anakmu ini!” teriak papa lalu segera bergegas masuk ke dalam mobil yang bodyguard papa bawa sebelumnya.

Tak lama setelah papa masuk mobil, kedua bodyguard papa menyusul dan masuk ke dalam mobil dengan tergesa.

“Avvia la macchina ora!” (Jalankan mobilnya sekarang!)

Mesin mobil di nyalakan dengan aku yang masih berteriak histeris di samping papa.

“STOP!!” sebuah suara kecil, yang sangat ku kenal adalah suara Kak Dabi. Ternyata, ia menghadang mobil papa sembari merentangkan kedua tangannya kencang.

“PAPA JANGAN PISAHIN AKU SAMA WYNE!! ATAU AKU GA AKAN PERNAH MENYINGKIR DARI SINI!!”

Aku menangis? sudah pasti. Bahkan aku sudah mulai lelah menangis sekarang. Papa masih memeluk ku erat, dan mengunci semua pergerakanku.

Salah satu bodyguard papa berbalik, dan memberikan isyarat kepada tuannya. Lalu sang tuan menjawab “Solo un po’, cerca di non ferirlo.” (Serempet saja, cobalah untuk tidak menyakitinya terlalu parah.)

Aku.. tidak mengerti apa yang papa katakan..

Sang bodyguard mengangguk lalu mulai membelokkan setir mobilnya lihai sembari menginjak pedal gas kencang. Kak Dabi terkejut lalu mendadak menyingkir dan sialnya itu membuatnya terjatuh dan kepala nya yang membentur batu jalanan. Aku yang melihat itu, justru kembali berteriak histeris dan memberontak kembali.

“KAK DABIIII!!! PAPA KAK DABI JATOH PA!! STOP IN MOBILNYA PA! PAPAA!! PAPA JAHAAAAAAATTTT.”

“Saya tidak pernah main main dengan peran yang kamu beri, Elena.”


©naskahjingga