@naskahjingga on twitter! 💕

Day by day

image

Alunan suara musik DJ yang menggelegar mulai terbiasa di telinga seorang Dwyne. Tidak terasa hari demi hari sudah Dwyne jalani sebagai seorang karyawan di Club Night ini. Dan selama itu juga ia tidak mendapat petunjuk apapun di tempat ini.

“Din, gantiin gue bentar ya. Mau ke toilet, kebelet.”

Wanita berkuncir kuda itu melesat pergi menuju toilet khusus staff di belakang meja bartender. Dwyne yang sedang berganti identitas sebagai Dine, ia hanya tersenyum ramah lalu mengangguk dan mulai menggantikan teman kerja nya yang Dwyne kenal dengan nama Ika.

Untuk pertama kali sejak ia bekerja di bar ini, suasana terasa sepi. Bukan sepi suara alunan musik nya, tapi sepi karena pengunjung yang datang bisa dihitung pakai jari. Hanya beberapa biji kepala yang tersebar di setiap sudut ruangan itu.

Seketika bahu Dwyne disentuh, ia lantas sedikit terkejut “Dine, siapin Wine khusus yang di lemari pendingin paling atas ya. Saya ada agenda rapat malam ini.”

Rupanya itu adalah sang manajer dengan setelan rapi sedang meminta Dwyne untuk menyuguhkan Wine untuk rekan rapatnya. Dwyne hanya mengangguk paham lalu segera mengambil nampan dan berjalan ke arah lemari pendingin yang terletak tidak terlalu jauh.

“Rapat macam apa yang hidangannya Wine dengan kadar alkohol tinggi seperti ini?”, batin Dwyne berisik karena ia tahu betul Wine dengan merk 'Lavietom' ini kadar alkoholnya bukan main main.

Ika datang setelah menyelesaikan kegiatan alam nya dan menghampiri Dwyne yang sedang menata botol Wine ke nampan, “Siapa yang pesen, Din?”

“Gak tahu, saya disuruh Bu Anneth untuk menyuguhkan wine wine ini di ruangannya.”

Ika berekspresi maklum seakan sudah tahu apa yang sedang terjadi, “Ohhh kata Bu Anneth ada rapat bukan?”

Dwyne mengangguk, “Kamu tahu, Ika?”

Ika membantu Dwyne menata botol wine, “Setiap bulan Bu Anneth ngadain rapat inti manajer cabang disini.”

“Cabang?”

“Lu kira ini bar ada satu aja gitu? Yakali. Orang banyak cabangnya, kalau gak salah ada enam cabang deh. Disini pusat nya. Lo beneran baru tau din?”

”Iya, saya baru tau.”, ujar Dwyne kemudian disusul banyak teka teki yang muncul begitu saja di kepalanya.

Ika menghela nafas pelan, ”Tapi aneh nya ya din, tu 6 cabang yang laen di jogja juga dan posisi nya juga lumayan ambil tempat yang agak sepian.”

”Maksud kamu sepi?”

”Sepi penduduk gitu loh, bukan di desa tapi lebih kayak di pinggiran kota. Tapi anehnya lagi nama bar nya gak saling berkaitan tapi tetep rame itu bar.”

”Kamu tahu namanya, Ika?”

”Aduh kalo namanya sama lokasinya gue inget Mammon, Asmo sama Beel aja sisanya lupa banget gue.”

”Dimana itu?”

”Kalo dari sini, Mammon bar di utara, Asmo bar di selatan, dan Beel bar di barat daya. Gue juga lupa alamat persisnya tapi itu rincian garis besarnya. Lu mau mampir kesana, din?”

”Ah enggak, saya hanya pengen tahu saja.”

Ika tertawa kecil, ”Hahaha orang kaku kayak lu bisa kepo juga ya..”

Dwyne terheran dan seakan menunjuk dirinya sendiri, ”Saya kaku?”

”Liat aja gaya ngomong lu, kayak lagi ketemu presiden aja pake saya kamu saya kamu. Gue rada ga yakin lo pure orang indo.”

”Saya memang asli indonesia kok, cuman gaya bicara saya sudah di ajarin orang tua saya seperti ini. Memang gitu ya? pake saya kamu dinilai kaku banget?”

Ika mengangguk, ”Heem, paling minimal pake aku kamu kalo gamau dibilang kaku, din.”

”Oh gitu. Maksud kamu aku gini?”

”Iyap, gitu! Jaga jaga aja supaya ga malu bilang kaku haha. Eh din udah nih, gue atau lu yang antar ke ruangan Bu Anneth?”

”Berdua aja, aku takut salah disana kebetulan ada dua nampan juga ini.”

”Oh okay, yuk.”


”Anak pa bos bikin ulah lagi, untung saya cepet beresinnya. Kalau enggak habis reputasi dia disekolahnya.”

”Yang sekolah di SMA Treasure itu kah?”

”Iya, yang gede. Coba tebak berapa kali anak pa bos bikin ulah dalam seminggu ini?”

”Banyak banget emang nya?”

”Tiga k—“


©naskahjingga