@naskahjingga on twitter! 💕

Grand Final Duta Kampus

image

“Selamat sore semuaa, kembali lagi dengan saya selaku pembawa acara pemilihan Duta kampus! ...”

Sesi pembuka sudah terlewati, saatnya sang pembawa acara menjelaskan teknis acara.

“sesi tanya jawab dibagi menjadi dua sesi dan waktu menjawab hanya diberikan waktu 45 detik. Jadi, manfaatkan waktu kalian sebaik mungkin”

Sekar lihat Juri nya masih sama dengan yang sebelumnya. Dan nomor urut diumumkan.

“Oke, yang pertama maju adalah pasangan urut 1, Hijau dan Gifella”

“Dari sekarang aja”

Hijau dan Gif maju, lalu Gif mengambil mic secara tiba tiba dan berkata “Mohon maaf, saya ingin bertukar giliran dengan pasangan 3, s-saya ingin meringankan panic attack saya dulu”

Dua orang dari kursi penonton tercengang ketika mendengar Gif berkata demikian. Ia mengangkat walkie talkie nya lalu bersuara panik.

“KI, JANGAN KI! BATALIN!” tidak berteriak, hanya dengan nada sedikit menekan.

Tidak ada jawaban.

Mic yang dipegang Gif, di serahkan kepada Sekar yang sudah berdiri dari duduknya di dampingi oleh Tara. Sementara Gif dan Hijau kembali ke tempat duduknya. Gif tersenyum licik sebelum akhirnya menetralkan ekspresinya kembali.

“Bajingan..”
” KIANO! LO DISANA??!”

Itu adalah suara Ruvin dan Ayres yang masih terlihat panik.

Sepertinya rencana mereka diluar perkiraan.

Sekar sedang asyik menjawab pertanyaan dari sang Rektor dan sang Rektor pun tersenyum puas dengan jawaban Sekar.

zzzttt, ngiing

Mic Sekar terlempar sementara yang baru saja memegang mic itu terlutut sembari memegang tangannya nyeri.

Semua orang panik, termasuk dua orang yang duduk di bangku penonton yaitu Ruvin dan Ayres.

“Damn!!” Ayres memukul bangku kosong disampingnya keras lalu menatap Sekar khawatir dari bawah panggung.

Hijau bergegas menghampiri Sekar, bermaksud melihat keadaannya.

“Kar, gapapa?”

Sekar menggeleng lalu mengisyaratkan Hijau untuk kembali ke tempatnya.

“Kesetrum dikit aja” tapi masih terasa nyeri, gimana sih..

“Sekar, lo mau turun aja?” itu suara Tara yang sebenarnya ia selalu berdiri disamping Sekar.

“Ga usah, gue gapapa” Sekar berdiri lalu diberikan mic baru oleh panitia.

“Maaf saya membuat keributan, tangan saya kesetrum sedikit mungkin karena gugup jadi tangan saya basah”

Semua orang di aula itu berfikir mungkin tadi hanyalah sedikit kesalahan teknis. Jadi, Sekar kembali melanjutkan jawabannya seraya memasang senyum nya kembali.

“Iya, Sekar adalah anak haram”
“Maksud kamu?”
“Lo tau Abian?”
“Abian? Kahim angkatan 18?”
“Dia adalah kakak Sekar, dan Sekar sering main tangan dengan Abian”
“Main tangan?”
“Sekar benci Abian karena menurutnya yang anak haram adalah Abian bukan Sekar. Padahal kenyataannya Sekar adalah anak haram yang sebenarnya. Gue kadang kasian liat Abian”

Sebuah percakapan terlarang terputar di seluruh Aula. Percakapan itu terdengar anonymous karena efek suara chipmunk yang terdengar jelas. Yang mendengar pun tidak tau, lelaki atau perempuan yang sedang berbincang itu.

Sesaat, seisi Aula riuh. Sangat riuh. Ada yang membuka rekaman ponselnya, kamera, atau bahkan story instagram.

“SEKAR ANAK HARAM??”
“Seriuss??? Ka Abian adalah kahim favorit guee”
“huhu ga nyangka Sekar se kasar itu, anjing bgt”
“Gue sih ga sudi ya, Duta kampus kita anak haram”

Sorot mata Sekar memaku, saat mendengar semua ucapan mahasiswa ncit sekarang. Ia sendiri tidak tau, apakah yang diucapkan orang di rekaman suara sebelumnya benar atau hanya bualan belaka.

Lagi lagi, seseorang menampilkan smirk khas nya.


©arunandaa