@naskahjingga on twitter! 💕

Gray Night.

Since 5 Years

“Har, hp gue mana?”

Bio baru saja menyelesaikan urusannya di toilet, lalu bergabung dengan Harun yang sedari tadi duduk di ruang tamu Bio yang di alih fungsikan sebagai tempat main game malam ini.

Harun sedikit terkaget, “Gue pinjem buat login ML bentar, ya?”

“Anjir lo dimana mana pinjem buat login mulu, di pc gue aja sana.”

“Males ah, udah nyaman disini.”

Akhirnya Bio menatap Harun maklum, “Tapi ga ada telpon masuk gitu?”

Harun membalas tatapan Bio, “Telepon? Ga ada tuh? Telepon apa emangnya? Rentenir ya?”

“Sembarangan lo anjing, chat gitu ga ada notif nya?”

Lagi lagi Harun menggeleng, “Ga ada Bi, Mang napa sie.”

Bio mendudukkan dirinya kasar di sofa samping Harun, ia membuka tutup kaleng soda yang sudah ia ambil sebelum dari toilet tadi. Seteguk, dua teguk hingga akhirnya ia menghabiskan sekaleng soda itu. Kaleng soda yang sudah kosong itupun akhirnya ia remas kuat dengan berbagai emosi yang ia pusatkan pada genggamannya.

Harun yang sudah mengetahui apa penyebab badmood nya Bio, hanya berusaha menyimpan senyum bahagianya sembari masih memegang ponsel Bio dengan berlagak sedang memainkan game di ponsel itu.

Dengan atensi yang masih terpusat pada drama nge-game nya, Harun yang semulanya bersandar mulai menegakkan punggungnya menghadap Bio yang masih sibuk dengan pikirannya.

“Would you like some beer?”

“Hah? Ga salah denger nih gue?” Bio menatap Harun heran, karena tidak biasanya ia mengajak untuk meminum bir.

Harun tertawa kecil, “Gue tau kali Bi kalo lo lagi banyak pikiran, kayak baru temenan aja.”

“Tumben lo ga banyak tanya ke gue har.”

“Gue nunggu lo cerita ajalah, gamau maksa gue nanti berantem lagi, males.”

“Haha iya, gue lagi belum mau cerita nanti aja ya..”

“Mau ga bir? Biar gue ajak dua temen gue biar beliin birnya sekalian minum bareng disini.”

“Dih katanya gapunya temen.”

“Lagian lo nyuekin gue sih kemarin, jadinya dapet temen baru kan gue.”

“Haha bagus lah, setidaknya lo ga nolep nolep bgt kalo gada gue.”

Suara dentingan jam dinding mulai tersamarkan karena Harun yang mengajak Bio untuk mabar PS bersamanya. Hingga tawa demi tawa muncul, membuat suasana hati Bio membaik sekarang. Di saat itu juga ia berfikir bahwa betapa beruntungnya ia memiliki teman seperti Harun. Setitik penyesalan muncul kenapa ia lebih mempercayai Manisa dibanding teman 5 tahunnya yang jelas ia lebih tau karakternya.

“HAHAHA CUPU BGT LO MAIN GINI, YEAY BESOK GUE BAJU BARU HAHAHA.”

“Hoki lo lagi ada, anjing.”

“BILANG AJA GUE JAGO, SUSAH YA?? HAHA.”


Tok tok tok

“Temen lo har?”

Harun menelan gigitan terakhir dari snack yang ia makan lalu berdiri dan berjalan menuju pintu depan untuk membuka kan pintu. Ia tersenyum menang ketika melihat dua orang yang sudah berdiri di depan pintu rumah Bio itu.

“Hey, Har!”

Bio menoleh kaget ke pintu depan, “Suara Cewe? Harun brengsek gabilang kalo temen dia cewe.”

Harun masuk di iringi dua wanita yang salah satunya membawa kantong plastik hitam berisi beberapa botol bir pesanan Harun.

“Harun gila anjing, masa mau mabok sama cewe sih?? Ga beres ni manusia.” — batin Bio sembari menatap sinis ke Harun.

“Hai!! Bio kan?? Gue Rara! Salken ya.” Sapa wanita berambut sebahu dengan pakaian terlalu terbuka di area dada yang jelas membuat Bio sedikit risih melihatnya.

Sedangkan wanita satunya, sangat berbanding terbalik dari Rara. Ia terlihat lebih 'Mendingan' kalau dari segi penampilan.

“Woi bi! Sahutin anjir, ngelamun aja lo.” Harun menyenggol bahu Bio pelan namun cukup terasa sakit.

Bio memaksakan senyumnya untuk keluar, “Ah iya, salken ra..”

“Ayo ra, han.. Masuk aja, anggep aja rumah sendiri..”

“Si bangsat gue liat liat makin gatau diri ya, liat aja nanti lo jing.” — batin Bio semakin berisik.

Rara dan Hana (Nama wanita satunya) melangkahkan kakinya ke ruang tamu rumah Bio, lalu duduk sembari menyamankan posisi mereka sekarang.

“Bentar gue ambil gelas dulu..” Ucap Harun pamit hingga tinggallah Bio bersama dua wanita tersebut.

Rara memotong jaraknya dengan Bio lalu menyodorkan ponsel miliknya pada sang lelaki, “Bagi nomor dong bi..”

Bio mengangkat sebelah alisnya heran, “N-nomor??”

“Iya! Kita boleh temenan kan??”

Bio sedikit pasrah, ia tidak punya alasan untuk menolak ajakan berteman oleh Rara. Lagipula dia tidak macam macam kan?


“Ternyata Bio cepet juga ya mabuk nya..”

Rara, ialah yang paling kuat minum. Bagaimana bisa, setelah habis tiga botol ia juga tak kunjung mabuk? Apa ia sudah terlatih apa gimana?

Di antara celotehan ngelantur Harun dan Hana, Bio justru terlelap dengan posisi duduk sambil memegang gelas bir nya yang belum habis.

Rara fokus memandangi lelaki itu seksama, lalu mengingat kenapa ia bisa sampai disini.

“Akhirnya gue ketemu sama lo, Bio Darmawangsa.. Gapapa lo gakenal gue, tapi yang penting lo selalu ada di sekeliling gue. Lo ga berubah ya bi, masih ganteng hehe.. Dan gue bersumpah bakal nyingkirin pacar lo, Manisa. Hingga di mata lo akan hanya ada gue, Rara.”

Tok tok tok

“BII, BIO SAYANG.. BUKAIN PINTUNYA, AKU MAU NGOMONGG.. KASIH AKU KESEMPATAN NGOMONG BI..”

“BII BUKAIN DONG, DINGIN NIH..”

“BIII, HUJAN BIII.”

Setelah lama didiamkan, akhirnya Rara yang masih sadar beranjak dari duduknya menuju pintu depan untuk hanya sekedar membuka pintu. Sebenarnya Rara tau, kalau yang datang sekarang adalah pacarnya Bio, Manisa.

Ceklek

“SIAPA LO??”

©arunandaa