@naskahjingga on twitter! 💕

Hint

image

“Hallo.”
”...”
“Pecat satu karyawan atas nama Gil Fernando.”
”...”
“Dia lancang di depan saya.”
”...”
“Tidak menerima alasan apapun, pecat sekarang juga!”
”...”
“Okay, thanks.”

Sambungan telepon terputus secara sepihak. Sang empunya telepon langsung menaruh asal ponselnya kedalam tas berwarna hijau tua yang masih menempel pada pundaknya. Wajahnya terlihat kesal saat itu juga.

Dwyne. Orang satu satunya yang tersisa di ruang VIP bar tersebut.

“Berani beraninya dia memuji saya saat sedang berduaan. Dia pikir dia siapa? Tidak pantas pujian itu keluar dari mulutnya untuk saya. Bikin saya risih saja.”

Dwyne menuang kembali wine yang sudah habis dari gelasnya. Lalu ia kembali meneguk wine tersebut dalam tegukan oneshoot yang jarang ia lakukan. Sungguh, ia kesal sekarang.

Sementara di luar ruangan VIP itu, samar terdengar suara musik DJ kian mengeras dan lumayan memekak kan telinga. Semakin malam, aktifitas di club ini semakin aktif.

Jujur Dwyne agak sedikit bosan jika harus meredakan rasa kesalnya di dalam ruangan pengap kedap suara ini. Hingga ia memutuskan keluar untuk melihat situasi sekitar sekaligus mencari tontonan menarik untuk dilihat.

Dwyne mengedarkan pandangan tanpa melepas gelas wine di tangannya. Rupanya, Netra Dwyne menangkap sebuah objek tak asing dalam ingatannya.

“Itu kan..”, Ia berusaha mengingat keras.

Di pergelangan tangan seorang penjaga disitu terdapat sebuah tatto sayap hitam yang lumayan persis dengan di foto yang dikirim Luke beberapa saat yang lalu.

“Ah, tato sayap hitam?! kenapa bisa ada disini??”

Dwyne mengalihkan pandangannya lagi dan menemukan penjaga club lainnya dengan bentuk yang sama dengan tempat yang berbeda. Kali ini tato itu berada persis di tengkuk leher belakang sang penjaga.

Dan dasi itu..., Memori malam itu kembali terputar dalam benak Dwyne. Ia perlahan mengingat hal kecil yang sebelumnya ia tidak familiar.

[Dalam bahasa italia]
“Haha dasimu itu seperti dasi anak tk yang masih dipakaikan popok oleh ibunya. Lucu sekali..”

“Kalian curang! memakai dasi itu sebagai senjata pengganti dalam melawan saya?! Mentang mentang saya sudah mematahkan tongkat baseball kalian!”

“Jangan sentuh tubuh saya! akan saya pastikan tanganmu putus ketika-”

“S-saya mohon b-berhenti.. Say-a bi-sa mat-i.. Papa-a...”

“Mbak?”

Dwyne refleks menoleh ke arah sumber suara, dan menemukan seorang pria jangkung dengan raut wajah khawatirnya. Dia siapa?

“Mbak gapapa? Kalau sakit jangan ke club mbak, nanti tambah pusing.”, ujarnya tanpa mengalihkan titik fokusnya sedikitpun.

“H-hah? S-saya? kenapa?”

“Mbak pusing kan? Mbak tadi megang kepala di tengah jalan begini. Daritadi orang lalu lalang ke toilet dan minta mbak minggir tapi ga di gubris sama mbak nya. Mbak bener bener ngalangin jalan pengunjung yang lain..”

“Ah, Sorry.”, Dwyne menyadari hal itu dan segera melipir dari jalan itu sekarang juga.

Pria itu kembali bertanya, “Mbak beneran gapapa?”

“Dabi!”, dari sisi yang berlawanan seorang pria datang lagi, tapi dengan raut wajah panik.

“Lo liat dompet gue gak, dab?”

“Dompet? si anjir ceroboh banget lo. Dimana lo terakhir kali naroh?”

“Lupa..”

“Heh lo tadi ke toilet bareng gue ya njir, cari sana!”

“Bantuin..”, tangan pria yang diketahui bernama Dabi itu ditarik paksa oleh temannya dan dengan berat hati ia harus lenyap dari hadapan Dwyne.

Dwyne mematung seketika saat mendengar nama yang ia dengar barusan.

Dabi? Itu tadi Kak Dabith yang saya kenal? , perlahan sudut bibir Dwyne naik, senyuman kecil tersungging dari bibirnya. Lebih ke senyuman miris karena rupanya sang kakak tidak mengenalinya sama sekali.

Sebenarnya bagi Dwyne, tidak mengenal satu sama lain setelah sebelas tahun berpisah merupakan hal yang wajar. Tapi tetap saja, rasanya tetap sakit jika mengetahui fakta itu.

Dwyne semakin tenggelam dalam pikirannya. Berbagai hal cukup mengganggu pikirannya saat ini. Tentang petunjuk yang ia temukan disini, dan pertemuan dengan sang kakak tertua setelah sebelas tahun berpisah tanpa kontak sedikitpun.

Ia memutuskan untuk duduk di salah satu meja bar yang rupanya disebelahnya terdapat Dabi dan temannya tadi. Mereka duduk di meja bundar yang cukup besar.

“Mas, Tonic Cocktail satu.”, seorang wanita yang mulai mabuk terlihat memesan salah satu minuman dengan kadar alkohol yang lumayan tinggi.

Sang bartender mengangguk lalu mulai membuatkan pesanan sang wanita yang sudah duduk tepat di samping Dwyne sekarang.

“Pulang, ra.”

“Gamau! Lo apaan sih? gue masih mau minum juga.”

“Whats wrong with you, ra? cerita sama gue.”

“Gapapa, tau gasih nal kemaren gue liat laba laba gede banget terus gue ambil kertas sama pulpen.”

“Buat apa?”

“Minta tanda tangan nya! Kali aja itu Tom Holland yang lagi nyamar, hehe.”

“Dah udah, lo ngelantur gajelas ayo pulang gue anter.”

“Dibilang gamau ih! ngeyel.”

“Lo yang ngeyel. Mau sampai kapan lo mabuk gini?”

“Gue udah 18 tahun juga!”

“Tapi besok lo sekolah, ra.”

“Ra, stop.”, seorang pria menyusul dan menengahi perdebatan yang sepertinya antara kedua temannya.

“Giuuuuu, liat deh Nala nyuruh nyuruh gue pulanggg.”

Giu menghela nafas pelan, “Anter pake taksi, Nal. Lo gabisa bonceng manusia setengah gila gini.”

“Terus motor lo?”

“Dabi yang bawa, tadi kan gua bonceng Dabi.”

Nala mengangguk, “Oke, kuncinya sama Keef ya Gi. Thanks, gue anter Rara dulu. Mobil gue besok aja.”

“Iya, santai.”

Kak Giu??


©naskahjingga