@naskahjingga on twitter! 💕

Grand Final Duta Kampus

image

Angin semilir menerpa wajah gadis cantik yang tengah gugup sembari berjalan mondar mandir di atas balkon kampus. Sebenarnya tujuan awalnya kesini hanya untuk menenangkan dirinya tapi entah kenapa malah semakin gugup.

Suara pintu balkon terbuka lalu menampakkan seorang lelaki berpostur tinggi sambil memegang dua gelas minuman yang sepertinya baru saja ia beli di cafe terdekat.

“Gugup bgt ya?”

Sang gadis bernama Sekar hanya mengangguk lalu kembali menatap langit biru yang seakan juga sedang menyemangatinya.

“Tenang aja, ada gue” ujar sang lelaki bernama Tara, lalu menyodorkan salah satu gelas minuman yang dipegangnya.

Sekar menyambut “Apa ni?”

“Green tea ice, kata orang teh hijau bisa bikin rileks” ujarnya tanpa melepaskan pandangannya dari Sekar.

Sekar mengangguk setuju lalu mulai meneguk teh itu perlahan, diakhiri hembusan nafas panjang dari sang empunya.

“Lo gak gugup Tar?”
“Enggak, gue udah sering public speaking gini”
“Wihh serius?? Baru tau loh gue”

Tara tersenyum lalu ia juga memandang langit biru seperti Sekar.

“Yang gue tau, lo sering juga deh ikut ginian”
“G-gue?”

Sekar gugup lalu ia teringat bahwa Sekar asli memang jago public speaking apalagi kalau sesi tanya jawab begini. “duh, sekar asli kenapa pinter bgt sih.. Jd susahkan gue nyeimbangin nya” — monolog Sekar dalam hati.

“Kar.. Kok ngelamun?”
“Ah engga, cuman sejak amnesia gue seperti kehilangan diri gue.. Mulai dari ingatan tentang orang terdekat gue, orang yang gue sayang, bahkan diri gue sendiri. Dan sejak kecelakaan itu, gue ngejalanin hidup ngikutin arus aja kayak ga ada tujuan hidup..”

“bagus ga akting gue?” — monolog Sekar dalam hati.

Tara tercengang “sial gue lupa kalau Sekar amnesia” — kali ini, monolog Tara.

Suasana menjadi canggung hanya karena Tara yang keceplosan sebelumnya. Mereka saling mencuri tatap dan saling menunggu siapa yang akan berbicara duluan.

Hingga akhirnya keheningan mereka buyar saat ponsel Tara berdering kencang. Tara mengangkatnya.

“Halo pah”
”...”
“Iya, Tara ngerti”
”...”
“Gausah pah, netral aja”
”...”
“Tara bisa sendiri, percaya sama Tara”
”...”
“I will try my best”
”...”

Panggilan diakhiri, Tara mengantongi ponsel nya kembali lalu mencuri pandang ke arah Sekar.

“Bokap lo?” tanya Sekar.
“Iya, bokap gue orangnya suka khawatiran”
“Khawatir tentang apa”
“Duta kampus”
“Kalau gitu, bokap lo berharap lo menang dong.. Gimana kalau gue bikin lo ga menang? Terus bokap lo marah ke gue terus—..”
“Hey”
“Terus bokap lo datengin rumah gue-”
“Sekar—”
“Terus bokap lo ngadu ke bokap gue-”
“Sssst Sekar! Dengerin gue”

Sekar terdiam dari yang sebelumnya mengoceh tanpa henti. Tara mendekatkan wajahnya lalu tersenyum manis ke arah sang gadis “Bokap gue ga seperti yang lo bayangkan, dan satu lagi lo mau banget ya bokap gue datengin rumah lo? Haha”

“apaan sih Tara” — lagi lagi Sekar bermonolog pelan.

“E-enggak, kan wajar takut..”
“Yaudah nanti gue sama bokap gue ke rumah lo sambil bawa mahar ya”
“H-Hah???!”
“Hahaha lucu, becandaaa”

Tara mengangkat tangannya lalu menyentuh hidung Sekar singkat. Tak lupa ia juga mengacak pucuk kepala Sekar pelan.


©arunandaa