@naskahjingga on twitter! 💕

Kamu, Adiba?

Pemuda bernama Zhafran itu duduk di ruang pimpinan dengan segala pikiran yang menghantui kepalanya. Zhafran tau kalau wanita yang sedang berbaring di ruang tamu nya itu adalah Syazani Adiba Albiru, wanita yang dikenalkan Abinya tanpa sempat melihat wajahnya. Ia tau kalau wanita itu bernama Adiba karena ketika Sorogan tadi maghrib, sangat jelas terdengar di telinga Zhafran bahwa bacaan Adiba tidak lancar dan masih harus dikoreksi lebih lanjut. Itu sangat menggambarkan ciri ciri santriwati baru.

Hingga beberapa saat Zhafran berdzikir di tengah bunyi jangkrik, terdengar bunyi ringisan dari ruang tamu dan pastinya itu adalah suara Adiba.

Zhafran beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruang tamu. Ia ingin meminta penjelasan kepada Adiba tentang tindakan yang baru saja ia lakukan.

Zhafran membuka tirai ruang tamu, dan tetap ia menundukkan pandangannya.

”Assalamualaikum..”

Adiba tercengang melihat kehadiran Zhafran yang tiba-tiba. Dan matanya tidak terlepas dari sosok di depannya ini.

”Jawab salam saya.”

Adiba tersadar akan pandangannya, ”Waalaikumsalam.”

Zhafran duduk di kursi tamu yang agak jauh jaraknya dari Adiba dan mulai membuka topik atas hal yang ingin ia tanyakan sebelumnya.

Adiba sedikit heran, ”Jauh banget, sini deketan. Gue udah mandi kali.”

”Tidak, saya tidak berani. Saya cukup disini saja.”

”Ah iya gue lupa lo anak kyai, maaf Zhafran.”

”Kamu, Adiba? Anaknya om albiru?”

Adiba tersenyum kecil, ”Kalau gue ga ngakuin bokap gue dosa ga ya?”

Zhafran hanya diam menanggapi apa yang baru saja Adiba katakan. Ia tidak berani mengatakan apapun karena jujur ia takut salah.

”Kamu ngapain tadi manjat pohon?” Intonasi Zhafran mulai menginterogasi.

”Ya menurut lo aja apa?”

”Saya ga tau, makanya saya bertanya sama kamu. Saya ga mau menarik kesimpulan semudah itu.”

Adiba diam sesaat, ia berfikir apakah sebaiknya jujur atau berbohong.

”Jujur pada saya, saya gasuka orang bohong.” tukas Zhafran.

Adiba menghela nafas pelan sebelum membuka suaranya, ”Gue mau kabur.”

Zhafran sedikit kaget, ”Kenapa?”

”Gue disini dibuang sama bokap gue, ya kali gue diem aja.”

”Ga ada orang tua yang tega membuang anaknya, Adiba.”

”Lo gatau mending diam aja.”

”Saya memang gatau, tapi saya berusaha mengerti.”

Lagi lagi Adiba diam, sepertinya ia memang tipe orang yang malas berdebat.

”Saya harap kamu tidak lupa bahwa kedua orang tua kamu adalah salah satu pintu surga untuk kamu. Dan amalan yang paling di cintai oleh Allah adalah berbuat baik kepada kedua orang tua. Kamu jangan menilai hanya dari sudut pandangmu saja, Adiba. Kamu juga harus melihat dari sudut pandang ayah kamu. Bagaimana perasaan beliau melihat anaknya yang belum sepenuhnya taat kepada Allah. Beliau menitipkan kamu kesini bukan karena benci, tapi sayang. Beliau ga ingin kamu semakin tersesat di jalan yang salah.”

Perlahan, Adiba menunduk dan memori tentang kenangan kedua orang tuanya kembali terputar di otaknya. Apa ia harus mendengarkan ucapan Zhafran? Atau sebaliknya?

”Gue gabisa memenuhi ekspektasi mereka, Zhaf.”

”Ekspektasi?”

Kali ini Adiba menghembuskan nafas kasar, ”Asal lo tau, mereka selalu ngepush gue, mereka selalu bandingin gue dengan anak temennya. Gue ga sepintar mereka, Zhafran. Dari kecil, gue selalu tertinggal di antara anak temennya papa—“

Netra Adiba memanas, Bisa bisanya sisi terapuh dalam dirinya keluar di hadapan orang yang baru saja ia temui.

”Bahkan, buat beli mainan aja susah ngomongnya..”

Zhafran lagi lagi terdiam, yang ia bisa lakukan sekarang hanyalah membantu Adiba dalam menemukan kepercayaan dirinya kembali.

”Saya yakin kamu bisa, Adiba. Semua anak mempunyai kelebihannya masing-masing. Tergantung kamu yang bagaimana mengelola kelebihan kamu itu. Begini saja, saya akan membantu kamu selama di pesantren ini dalam hal apapun. Mungkin kamu tertinggal 1 tahun dan materi kelas kamu banyak yang tertinggal. Asalkan kamu tetap disini, ya? Om albiru sudah menitipkan kamu pada ayah saya, dan sekarang tanggung jawab itu ada di saya.”

”Hahaha, lo aja ga chat gue kemaren kemaren.”

”Afwan, saya memang agak canggung kalau menghubungi perempuan duluan.”

”Sekarang aja lo ngomong sama gue ga canggung, masa chat doang canggung.”

”Saya jarang chat, tapi saya sering presentasi. Jadi kamu sekarang saya anggap audiens saya.”

”Pantes pinter ngomongnya.”

tok tok tok

Ketukan pintu terdengar, di susul suara salam yang lumayan kecil volumenya.

”Retha? itu suara Retha kan??” Adiba memandang Zhafran yang masih betah menatap lantai.

”Asli lo ngapain si liatin lantai dari tadi? nyari amoeba?”

Zhafran berdiri pelan lalu membuka pintu dan menemukan dua orang insan yang berdiri tepat didepan nya sekarang.

”Waalaikumsalam, Kamu lama banget Gib..”

Ghibran tertawa renyah, ”Gus Zhafran yang terhormat, aku sudah di sini dari kalian saling membalas salam.”

Zhafran tercengang, ”Kenapa kamu ga masuk, Ghibran?”

”Aku ga mau ganggu, kayaknya obrolan kalian serius tadi.”

Adiba menyusul ke arah pintu dan menemukan Retha yang menyimak pertengkaran kecil Zhafran dan Ghibran itu.

”LOH BENERAN RETHA?? Sejak kapan?”

Retha menghembuskan nafas lelah, ”Sejak kamu baru sadar, diba.”

Ghibran membuka suara lagi, ”Ah iya, duluan dia daripada aku.”

”Aku jadi sempat ngomong banyak sama Ustadz Ghibran..” ucap Retha dengan ekspresi yang tidak bisa di artikan.

”Kalian pulang, sudah jam setengah 2 nanti solat subuh nya telat.” titah Zhafran kemudian.

Retha menarik lengan Adiba, ”Pokoknya kamu harus jelasin semua nya di asrama. Kami pulang dulu ya, Ustadz.”

Retha membungkuk sopan sebelum akhirnya mengucapkan salam kepada dua orang ustadz itu.

”Waalaikumsalam, hati hati.”

©️arunandaa, 2021.