@naskahjingga on twitter! 💕

Loser

TW// harsh word, kekerasan, perundungan.

image

Sepasang kaki terlihat melangkah dengan rasa berat hati. Bagi sang empunya, malam ini adalah malam yang sedikit berat baginya. Sekitar satu jam yang lalu, ia mendapatkan kabar melalui asisten kepercayaan ayahnya bahwa sang kakak mengalami masa koma pasca kecelakaan, katanya kecelakaan beruntun yang melibatkan tiga buah mobil.

Sungguh sekarang hatinya bagai dihujam ribuan panah dan kepalanya tidak bisa berfikir jernih sedikitpun. Kedua orang kesayangannya sedang di ambang kematian dan dia tidak bisa pulang sekarang. Ia hanya bisa berharap yang terbaik kepada tuhan.

Sedari tadi Dwyne duduk di kursi panjang pinggir jalan sembari menyesap sebatang rokok yang dikirimkan oleh Luke kemarin. Iya, Dwyne seorang perokok tapi tidak berat. Dia akan membakar rokoknya saat pikiran dan suasana hatinya sangat kacau. Rokok bagai pelarian terakhir bagi Dwyne.

Seharusnya sekarang ia bekerja namun tidak mungkin ia bekerja dengan suasana hati seperti ini. Di riwayat panggilan ponsel nya pun penuh dengan nama 'Ika' dan 'Manajer'.

“Kurang ajar!! Lo masih mau ngelawan gue?? Banyak nyali lo gue liat liat!”

Sayup sayup Dwyne mendengar teriakan wanita yang seperti sedang menghakimi. Dwyne mengedarkan pandangannya dan menemukan lorong gang gelap yang ia yakini suaranya berasal dari situ.

Dwyne mendekat ke arah suara dan menyembulkan kepalanya sedikit untuk melihat apa yang sedang terjadi.

Bugh bugh

“Perundungan?”, gumam Dwyne pelan dan ia sama sekali tidak tertarik dengan itu.

Saat di italia, ia sudah tinggal di lingkungan penuh kasus perundungan. Bahkan itu sudah menjadi hal yang lumrah di lingkungannya. Baginya kalau pelaku perundungan tersebut tidak menyentuh tubuh dan tidak mengganggu ketenangannya, maka ia tidak akan pernah mengotori tangannya untuk ikut campur urusan mereka.

Don't waste the oxygen you breathe just to take care of other people's lives. — katanya.

Dwyne membalikkan tubuhnya dan bermaksud untuk kembali duduk ke tempat duduknya yang semula. Baru beberapa langkah ia berjalan, satu kalimat yang terucap dari mulut orang yang berada di dalam lorong gelap itu menyita perhatiannya.

“Jangan pernah menyebut nama kita pada siapapun terutama Kak Dabi. Ini balasan karena lo udah genit ke gebetan gue yaitu Giu! Berani lo ngedeketin dia! Ga sadar diri apa lo?! Giu gak pernah selevel sama lo, sampah.”

Suara isak tangis pelan menggema di sepanjang lorong yang tak terjamah cahaya sedikitpun. Hanya sinar bulan sabit yang menemani mereka saat itu.

Dwyne kembali melangkahkan kakinya ke lorong itu dan melihat seorang perempuan yang sepertinya seumuran dengannya sudah mencium tanah seperti habis meminta ampun kepada tiga orang wanita perundung dan satu orang yang tidak terlihat jelas gendernya karena ia memakai jaket jeans biru dengan tudung yang menutupi hampir seluruh wajahnya. Orang itu hanya bersandar di dinding dengan kedua tangannya masuk ke saku jaketnya.

Sementara tiga wanita itu masih sibuk mengoceh ria dan terus menerus menyebutkan nama yang menyita perhatian Dwyne. Dabi dan Giu.

“Ya kali seorang Giuliano Jahan D kepincut sama butiran lalat sampah kayak lo?! Ngaca dong hey.. Perlu gue beliin kaca?! You are just a loser!”

Dwyne tertawa akibat ucapan salah satu wanita itu yang menurutnya cukup lucu, “Hey madam, Seorang loser tidak bisa menilai loser yang lain.”

Seluruh atensi seluruh orang disana tertuju pada Dwyne yang sudah mendekat dengan penampilan yang cukup berantakan dengan hoodie hitam karena kondisinya sebelumnya.

“Siapa lo ikut campur urusan gue?”, ucap salah satu wanita yang mengoceh paling kencang dari tadi. Dwyne tidak bisa melihat wajahnya karena ia memakai masker dan kacamata hitam dengan rambut hitam panjang yang terurai bebas.

“Kepedean sekali anda, saya bahkan tidak tertarik dengan urusan seorang loser seperti anda.”

“Wah cari masalah ni orang. Mending lo pergi deh sekarang.”

Dwyne mengangkat sebelah alisnya dan berbalik lalu setelah beberapa langkah ia kembali membalikkan tubuhnya dengan lagak seperti melupakan sesuatu. “Oh iya, jangan berisik ya. Saya tidak suka anjing yang menggonggong nyaring dan gonggongannya tidak memiliki makna apapun alias omong kosong.”

Wanita itu melotot marah, “Maksud lo gue anjing gitu??”

“Saya tidak ngomong begitu.”

Wanita yang sama masih melengos meremehkan, “Terus apa??! Lo mau dihajar kayak dia??!”

“Anda bukan level tandingan saya.”

“Belagu lo?? Kenapa? Takut?”

“Pardon? Buat apa takut sama anjing. Hey sis, kalian tidak malu ya berteman sama anjing seperti dia? Ah, maaf saya lupa anjing kan temannya juga anjing ya.”

“Ni orang lama lama ngelunjak. Guys, tahan!”

Dua orang wanita lainnya mulai menahan kedua tangan Dwyne dan memaksa ia untuk berlutut dihadapan sang wanita berkacamata hitam yang semakin mendekatkan langkahnya ke arah Dwyne.

“Cium kaki gue baru lo akan gue lepasin.”, tawa remeh sang wanita semakin menggema. Ia pikir, ia sudah menang dan menaklukkan Dwyne dengan mudah karena jumlah mereka yang lebih banyak.

Dwyne menghembuskan nafas pelan, “Kalau sakit jangan nangis, ya.”

Dengan sedikit tenaga, Dwyne menyikut satu orang di sebelah kanannya lalu ia mengambil pergelangan tangan orang di sebelah kiri dan memutar nya dengan wajah datar.

Kedua wanita yang tadi memegang kedua tangannya, sekarang sudah berlutut menggantikan Dwyne. Sedangkan wanita yang sepertinya adalah pemimpin mereka hanya terdiam dan tercengang dengan apa yang terjadi kepada dua orang anak buahnya.

“See? Ah.. Saya sepertinya memang butuh hiburan seperti ini..”, Dwyne melayangkan sebuah tendangan pada bahu wanita yang ia yakini sebagai pemuka geng itu. Sebenarnya ia sengaja. Ia sengaja hanya menyerang bagian yang memiliki kemungkinan terluka paling kecil, lebih tepatnya ia sadar bahwa sekarang ia berada di negara hukum yang lebih ketat akan kekerasan fisik.

Sang wanita itu terlempar kebelakang dan mendarat tepat di samping korban perundungan mereka. Tangan wanita itu mengepal seperti bersiap akan melakukan pergerakan perlawanan terhadap Dwyne.

Dwyne yang tahu jelas pergerakan itu hanya bisa tersenyum dan membuang puntung rokoknya sembarang lalu menginjak sisa bara api yang ada di puntung rokok tersebut. Ia menghembuskan nafas penuh asap rokok terakhirnya kepada wanita itu, “Sudah saya bilang anda bukan tandingan saya, madam.”

Rahang sang wanita mengeras, “Gue belum punya anak, jadi stop panggil gue madam.”

Dwyne berlagak pura pura terkejut, “Ah really? saya pikir anda sudah mempunyai anak bahkan cucu sekaligus.”

Sang wanita itu berdiri sembari berlari mendorong Dwyne dengan tangan yang mengepal di udara. Dan satu pukulan ia layangkan, tapi sayangnya Dwyne bisa menghindari itu dengan cepat.

“Brengsek!”, Sang wanita itu kembali menyerang Dwyne dan hasilnya tetap sama. Ia tidak bisa menyentuh wajah Dwyne barang satu inci pun.

“Wajah saya terlalu suci untuk tangan anda yang kotor.”

Amarah sang wanita bagaikan sedang berada dipuncak, lantas ia mengambil sebuah balok pentungan kayu yang terletak tak jauh dari tubuhnya.

Sepersekian detik kemudian, kepala Dwyne serasa dihantam sesuatu yang keras. Sakit sekali.

“Kenapa? orang secantik anda sangat rugi jika tidak disentuh.”

“Singkirkan tongkat itu dari saya!!”

Pertahanan tubuh Dwyne mulai oleng, sekuat tenaga ia menggelengkan kepalanya hebat berharap bayang bayang mengerikan itu segera pergi dari benak ingatannya.

Bugh

”YES! Ternyata tubuh lo mudah banget di cari celahnya! HAHA.”, sang wanita tertawa puas setelah beberapa kali percobaan ia ingin memukul wajah Dwyne sayangnya gagal. Tapi sekarang, ia berhasil memukul tubuh Dwyne dengan mudah.

“Stop it. Cukup. Udah. Pergi dari sini sekarang.”, itu suara berat laki laki.

Rupanya yang sedari tadi hanya diam bersandar ke tembok adalah seorang laki laki yang pastinya Dwyne tidak tau ia siapa. Masih sama, Dwyne tidak bisa melihat wajahnya jelas dan ia hanya mendengar suara berat yang orang itu lontarkan.

Sang wanita mengeleng, “Nope, dia harus mengganti kerugian yang dia sebab in karena udah ganggu kesenangan gue.”

Dwyne yang sebelumnya terjatuh, lantas ia berdiri dengan cepat karena sang wanita itu kembali melayangkan pukulannya memakai balok pentungan kayu yang masih stand by di tangannya. Hingga di satu pukulan, Dwyne menangkis balok kayu itu yang menyebabkan tangan sang wanita yang sedikit terpelintir ke belakang. Tak berhenti disitu, Dwyne lagi lagi menendang bahu sang wanita tapi kali ini dengan tenaga yang sangat kuat. Bisa saja sang wanita itu mengalami cedera sekarang.

Apalagi Sang wanita tidak pandai menghindar dan hanya bisa cara menyerang tanpa tahu cara mempertahankan diri.

Sang wanita meringis kesakitan sembari memegang bahunya yang tadi di tendang kuat oleh Dwyne.

“Wanita gila!! bener bener minta hajar lo anjing!”

Tanpa bicara, Dwyne hanya melontarkan isyarat untuk maju kepada sang wanita. Dwyne sangat tahu, bahwa wanita ini adalah tipikal orang yang tidak akan terima jika ia di remehkan atau di tantang.

Baru sang wanita berdiri, satu insan yang Dwyne yakini seorang pria sebelumnya berjalan menghampiri wanita itu dan menyeretnya pergi tanpa aba-aba sedikitpun. Yang di seret hanya berusaha melepas bahkan menepis tangan pria itu untuk tidak terus menyeretnya.

“Lepasin anjing! gue belum selesai sama dia!! Woi!!”

Jika kalian bertanya kemana dua anak buah wanita itu pergi, mereka sudah berlari sesaat setelah Dwyne terkena pukulan balok dari wanita itu. Entahlah kenapa mereka pergi.

“M-makasih mba..”

“Bisa berdiri sendiri kan?”

“Mba gapapa?”

”No prob, don’t worry.”


©naskahjingga