@naskahjingga on twitter! 💕

Malam yang sepi.

Night vibe road

Setelah selesai makan bersama dan mereka semua memutuskan untuk pulang, Noah, Giu, dan Dabi berjalan beriringan karena ternyata rumah Noah satu arah dengan rumah mereka berdua. Mereka berbicara banyak sampai akhirnya mereka sampai di sebuah jalan tidak terlalu besar yang lumayan sepi. Hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang.

“Eh liat deh, itu cewe ngeroko santai bgt ya.” ucap Giu sembari memfokuskan pandangannya ke satu titik objek di depan mereka.

Objek yang Giu maksud adalah seorang wanita muda yang sedang menyesap rokoknya sembari duduk santai menikmati keheningan jalan setapak itu. Wanita itu terlihat sangat muda bahkan seumuran dengan mereka.

“Kayaknya dia seumuran sama kita ga si bang?” timpal Noah setelah melihat betul betul objek tersebut.

“Dibawah umur dong?”
“Gue aja ga di bolehin nyokap gue ngerokok.”
“Kasian tu cewe, masih muda udah ngebahayain diri sendiri aja..”
“Tegur ga sih?”
“Ngapain? Udah biarin aja itu urusan dia, Dabi. Lo mah suka ga tega an anaknya.”
“Kalau dia cowo, gue masih bisa tega an. Lah dia cewe bangsul, lo bayangin aja kalau dia adek lo. Bakal lo apain coba kalau lo tau adek cewe lo ngerokok?”

Giu terdiam, lalu menatap Dabi dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Di satu sisi ia menempatkan dirinya pada posisi itu, tapi di sisi lain ia hanya tidak ingin ikut campur masalah orang lain. Makanya ia melarang Dabi untuk menegur anak perempuan tersebut.

“Kalau gue boleh ngomong bang, mending tegur aja deh. Lagian ini udah malem dan ga baik cewe di luar malam malam sendirian gitu.” ucap Noah dan dibalas anggukan oleh Dabi.

“Terserah lo bedua deh.” Final Giu pada akhirnya.

Mereka bertiga berjalan mendekat ke arah anak perempuan tersebut yang masih asyik dengan rokok di tangannya lalu perlahan Dabi mulai membuka suara untuk menyapanya.

“Halo dek, kamu sendirian aja?”

Perempuan itu sedikit terkejut, tapi karena ia memakai hodie coklat dengan topi yang menutup sebagian wajahnya, ekspresi terkejut itu sedikit bisa di sembunyikan.

“Dabi goblok, nada bicara lo kayak om om pedo anjir.” bisik Giu tapi masih lumayan terdengar oleh semuanya.

Perempuan itu masih pada posisinya dan semakin menundukkan kepalanya. Seakan akan ia menolak untuk bertemu tatap dengan tiga laki laki tersebut.

Sementara Noah masih tertawa kecil karena celetukan Giu sebelumnya, Giu berlutut di hadapan anak perempuan itu karena ia ingin melihat wajah perempuan itu. Kalau saja dia kenal dengan nya.

Akhirnya tatapan mereka bertemu, dan Giu kaget setengah mati dengan lekuk wajah yang ia lihat sekarang. Ia sangat mengenalnya.

“DEWAY??!”

Perempuan itu langsung berlari dan membuang rokok di tangannya sembarang. Dabi juga kaget, apakah Deway yang Giu maksud adalah adik kesayangannya, Wyne?

“DABI, ITU DWYNE BI! KEJAR!” teriak Giu lantang sekaligus panik.

Noah yang tidak tau apapun juga terikut panik dan ikut berlari bersama kedua abang nya, Giu dan Dabi. Yang Noah tau, hanyalah mengejar anak perempuan dengan hodie coklat tadi.

“DEWAY! J-JANGAN LARI! GUE—” Giu sudah tidak sanggup berteriak karena sedang sibuk berlari kencang mengejar orang yang ia yakini adiknya tersebut.

Mereka terus berlari hingga dihadapkan dengan gang buntu yang mengharuskan mereka semua untuk berputar balik. Tapi, perempuan yang mereka kejar tadi, tidak tahu pergi kemana. Alias mereka semua kehilangan jejaknya.

Giu menghembuskan nafas kasar dan mencoba menetralkan kecepatan masuk keluarnya oksigen di dalam paru paru nya. Matanya memanas seakan ada cairan liquid yang ingin memberontak keluar. Perlahan, ia menangis.

Sementara Dabi mencoba mengontrol perasaan halus nya, Noah mengelus punggung Giu yang terlihat sedang bergetar hebat.

“K-kita kehilangannya l-lagi.”


©arunandaa