@naskahjingga on twitter! 💕

Memori indah

image

Lingkungan sekolah masih terbilang sepi, alias Dwyne adalah penghuni pertama yang menginjakkan kaki di SMA Treasure sekarang. Menurutnya sih begitu. Dwyne berjalan ke arah loker para siswa berada. Ia harus mengambil buku yang ia taruh di loker setelah dibagikan kemarin tepat sehabis penutupan MPLS hari kedua. Ia mencari loker berwarna pink yang bertuliskan angka '1117'. Sebenarnya ia kesal melihat warna pink, dan sekarang loker miliknya berwarna pink. Kebetulan apa ini? Ingin rasanya ia mencat ulang loker itu dengan warna merah, warna favoritnya.

Ia memutar kunci dan mendapati setumpuk buku yang masih berantakan. Kemarin ia tak sempat merapikannya. Sebelum merapikannya, ia mengulurkan tas nya dan mengeluarkan benda yang ia bawa dari rumahnya. Dan menurutnya itu sudah menjadi kewajibannya untuk membawa benda itu. Cuman ada dua benda saja.

Voice Recorder dan Pisau saku lipat.

Papà Dwyne sebenarnya menyuruh anaknya untuk membawa pistol kecil. Tapi, karena di Indonesia memiliki sebuah pistol adalah hal yang dilarang bahkan harus mendapat izin dari aparat sekitar. Merepotkan, pikir Dwyne.

Jadi, pisau saku adalah pilihan lain sebagai alat pelindung diri seorang Mafia. Tidak ada salahnya kalau hanya ingin bersiap untuk melindungi diri sendiri dari segala kemungkinan bahaya yang menimpa. Kan?

“WOI”

Suara menggelegar itu menghampiri Dwyne dan ia sangat mengenal suara melengking yang menyapa telinganya.

Braak

Pintu loker miliknya di tutup paksa oleh manusia itu dan tangan Dwyne terjepit di antara sela pintu loker nya dan itu di tekan kuat oleh manusia menyebalkan itu.

Gina.

Manusia bernama Gina itu tertawa sinis karena melihat apa yang ia lakukan pada orang yang ia kenal dengan sebutan Dine.

“Sakit?” ujar nya tanpa mengalihkan pandangannya dari manik coklat terang milik Dwyne / Dine.

Dwyne hanya terdiam sembari menatap malas Gina dan berdialog di pikirannya.

“Gini doang sakit? Alah
ketusuk piso sama pistol aja > ga ngeluh tuh gue. Mana
ketawanya ngeselin bgt lg,
sial.”

“Kenapa diem? Takut? Mohon dulu sama gue sini, baru gue lepasin.”

“Gue pake piso gue
sekarang bisa ga sih?”

Gina lagi lagi tertawa kecil sembari menatap Dwyne remeh.

“Makanya jangan belagu lo disini. Gimana yang kemarin? Udah cukup belom fitnah gue bikin mental lo hancur? Haha semangat ya jalanin hukuman sosialnya!”

“Jadi bener lo fitnah gue? Kenapa lo tega bgt sama gue?” ucap Dwyne tak percaya.

“Itu belum seberapa, Dine.”

“Lo mau lakuin apa lagi ke gue, gin?”

“Kenapa? Takut? Hahaha emang liat lo takut gini salah satu sumber bahagia gue ya..”

“GINA!”

Seorang laki laki berlari menghampiri Dwyne dan Gina. Secara spontan, Gina melepaskan tekanan pada pintu loker milik Dwyne dan segera memasang wajah keduanya.

Jujur, Dwyne agak sedikit takut kalau saja laki laki yang bernama Dabith Isander ini mengenali nya. Semoga penyamaran wajahnya berhasil.

“Gina, Dine, ngapain lo bedua disini? Mau adu bacot lagi?” tuduh Dabi sembari melemparkan pandangannya ke dua oknum wanita di depannya ini.

“Engga kak, aku cuman mau minta maaf sama Dine. Karena aku, dia jadi bahan bully an di base. Maaf ya, Dine..”

Dabi menatap Dwyne seakan mencari kebenaran apakah yang di ucapkan adik tirinya itu benar? Hingga matanya menangkap sebuah objek yang membuat perasaan halusnya khawatir.

“Pergelangan tangan lo kenapa merah Din?”

Dwyne menyembunyikan tangannya ke belakang tubuhnya lalu tersenyum kecil “Gapapa kak, ini bekas make gelang kekencengan aja.”

Ternyata, penyamaran Dwyne berhasil.

“Kakak kenapa peduli sama Dine sih?? Kan yang adik kakak itu aku bukan Dine..”

“Ka Dabi kenapa harus
punya adik tiri yang
modelan Cheon Seo Jin gini > sih. Gue adik kandungnya
mau ape lu hah?!”

“Emang lo kenapa jadi pengen gue peduliin? Ke gigit naga bonar lo?”

“Ih kakak nyebelin! Aku laporin mama loh!”

“Becanda adikku sayang, mau apa lo? Gue beliin deh.”

Dalam diam, Dwyne tersenyum teduh. Ia teringat masa sebelum ia di paksa Papà nya untuk pergi ke Italia. Sepersekian detik kemudian, senyuman teduhnya berganti jadi senyuman miris. Ia miris terhadap kehidupan barunya di Italia. Mulai dari cara didikan baru Papà nya dan bagaimana ia menghadapi sebuah realita pahit dalam hidup barunya. Yaitu rasa kesepian.

Ia mengunci loker miliknya lalu segera berlalu dari hadapan dua orang yang sedang tertawa melihat ekspresi satu sama lain. Dwyne, hanya tidak ingin semakin berlarut dengan memori indah yang sebenarnya dapat menyiratkan luka dalam hatinya.

“Lo ga apa apain Dine kan, gin?”


© arunandaa